Universitas Negeri Malang Gelar Festival Teater Tingkat Mahasiswa

218

Malang, Porosinformatif – Dalam rangka Bulan Bahasa dan Sastra tahun 2019, Himpunan Mahasiswa Jurusan Sastra Indonesia Universitas Negeri Malang dengan bangga mempersembahkan Festival Teater Mahasiswa Sepasang Aktor Tingkat Nasional, dengan Tema “Revolusi Mental : Aktualisasi Identitas Nasional”.

Acara ini diselenggarakan pada hari Senin sampai dengan kamis, tanggal 21-24 Oktober 2019. Dimulai pukul 08.00-17.00 WIB. Bertempat di Laboratorium Drama Gedung E6 Lantai 2 Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang. Pendaftaran bagi peserta lomba pada waktu itu dimulai sejak tanggal 1 Juli hingga 1 September 2019.

Adapun peserta yang mengikuti acara ini terdiri dari berbagai kelompok teater yang ada di Indonesia, dan untuk terlibat atau tidaknya dalam acara ini, setiap peserta mengirimkan videonya terlebih dahulu, sebab tahapan utama dalam acara ini selain registrasi pendaftaran, juga ada penilaian video dan kosep, juga penilaian untuk menghindari plagiasi terhadap naskah yang akan dilombakan serta penilaian tersebut dilakukan oleh Tim kurator yang sekaligus bertindak sebagai dewan juri disaat berlangsungnya kegiatan perlombaan.

Beberapa nama peserta yang lolos kurasi dan turut bertanding ialah; Teater Kusuma, Teaer Mahibe dari Kalimantan Timur, Teater Q Surabaya, Teater Nisbi, Teater Sendratasik, Teater DII, Teater Imasind, Teater Stupa, Teater UNTAD (Universitas Tadulako).

Masing-masing dari kelompok ini menunjukkan talentanya di atas panggung. Tampak totalitas untuk tampil maksimal bisa dirasakan ketika perlombaan terjadi. Sehingga karena adanya rasa tampil maksimal tersebut, lupa bahwa lomba dalam seni teater tentu saja berbeda dengan lomba dalam hal lainnya, seperti lomba dalam olah raga, dan dalam ilmu eksak, tentu saja tidak bisa disamakan dengan lomba dalam kesenian khususnya teater.

Terutama dalam perlombaan pentas Sepasang aktor, keutuhan pementasan akan menjadi penilaian oleh dewan juri, tetapi tetap ada fokus utama yang menjadi penilaian yaitu sepasang aktornya, bagaimana keseimbangan dan kecerdasan aktor ketika bermain di atas panggung dalam menghidupkan tokoh, handprop, property dan kehidupan di atas panggung.

Juga ketika lawan atau kawan main salah atau blibet dalam dialog, biasanya aktor pemula sebagai kawan atau lawan mainnya akan tampak berubah ekspresinya atau terseret juga ikut blibet.

“Masih banyak elemen dasar dalam keaktoran yang masih belum terjamah oleh para aktor yang pentas dalam festival ini,” tegas Shindu salah satu juri kepada wartawan Porosinformatif.com.

Begitu juga dengan menghidupkan peristiwa, banyak aktor yang masih belum menjiwai setiap kata dan laku tokoh yang dimainkannya, masih sekedar melakukan belum menghidupkan tegas Indra yang juga salah satu juri.

Diakhir acara festival pada tanggal 24 Oktober 2019, dilakukan acara workshop teater oleh salah satu juri Roci Marciano M.Sn. Pada kesempatan workshop ini pula dibongkar kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh masing-masing peserta ketika di hari sebelumnya mereka berlomba, agar ketika terjadi kalah ataupun menang dari masing-masing kelompok, tidak terjadi perseteruan atas rasa ketidak puasan dimasing-masing pihak.

Sebab sehebat-hebatnya konsep sutradara dalam teater, eksekusinya ada pada aktor, mampu menghidupkan, menjiwai dan memerankan tokoh yang dimainkan. oleh sebab itu aktor hendaklah mempersiapkan segala perangkat yang ada di dalam tubuh dan jiwanya, karena akting saja tidaklah cukup, melainkan dibutuhkan seni acting yang baik. (roci)