Pentas Perdana Sanggar Apel Surabaya Dalam Peringatan Hari Anak Dunia

Surabaya, Porosinformatif – Dalam rangka memperingati Hari Anak Dunia, Sabtu (23-11-2019) Sanggar Apel Surabaya melakukan pementasan perdananya yang berjudul “Kebersamaan Itu Indah” Sutradara Roci Marciano. Dimana acara diselenggarakan oleh Sanggar Alit Surabaya.

Perform Adik-adik Sanggar Apel

Senja berlalu, malam datang menjemput, segerombolan anak-anak TK, SD dan SMP tampak bergerombol dengan wajah bermakeup putih seperti badut. Sarung berselempang diantara tubuh mereka, senyum dan keceriaanpun terpancar dari wajah-wajah lugu. Yang dipandang senang, yang memandang bahagia. Begitulah suasana ketika melihat penampakan 15 anak Sanggar Apel Surabaya.

Akhmal maju dan MC menyapa, ia hanya menjawab dengan Hahaha, penontonpun tertawa, hingga 3 kali baru menjawab bahwa ia sedang mencari temannya. Sebagai perkenalan awal ia bernyanyi dengan puisi yang ditulis sendiri, mengenalkan diri bahwa ia adalah seorang Raja.

Izan datang memanggil bahwa teman-temannya telah menunggu mengajak main. Kemudian teriakan Jaboi dari masing-masing anak berkumandang, diakhiri dengan teriakan jaboi secara serempak. Segerombolan anak-anakpun berjalan serempak, berkerudung sarung dan melantunkan kalimat rambate-rate-rata sebagai nyanyian symbol kebersamaan.

” Saat Oryza membacakan puisinya, dia mencoba merespon tentang perbuatan manusia yang tampak belum begitu baik mengelola sampah, bahkan banyak yang masih membuang sampah tidak pada tempatnya,” kata Roci Marciano S.Sn.,M.Sn Sutradara sekaligus penulis naskah.

Rombongan kembali berjalan, dan jaboi kembali berkumandang, tanda bahwa Raya membaca puisinya, mengenalkan diri, bangga terlahir mirip seperti Mamanya dan memberi peringatan kepada umat manusia agar tak lagi rasis antara satu dan lainnya.

“Puisi selanjutnya dibacakan oleh Milada, yang mengingatkan akan arti pentingnya hutan sebagai keseimbangan manusia. Semoga hutan tidak habis dibakar, agar dimasa depan ia dan generasinya masih bisa menikmati hutan,” ujar Dosen STKW Surabaya ini.

Selanjutnya puisi dimonologkan oleh Fara, mengingatkan bahwa dengan kebersamaan segalanya bisa dirubah untuk menuju dan menjaga kebaikan, tradisi harus kembali dilestarikan dan rindu akan kebersamaan.

“Dunia modern merenggut, ego manusia banyak tak tentu arah, manusia saling sikut, empati dan simpati sudah tak lagi saling terpaut,” imbuhnya.

Talita, Naven dan Oryza keluar dari barisan kebersamaan dan terjebak pada arus modernitas yang tidak berperasaan. Ditandai dengan membuang sampah sembarangan dan kaca mata hitam.

Music rock menghentak sebagai symbol percepatan zaman. Biyanka dan Alysa beraksi pantomime menunjukkan bahwa keadaan memang semakin parah, generasi sibuk mementingkan diri sendiri.

Music K-Pop menghentak, BTS menjadi pahlawan generasi milenial. Selanjutnya seluruh actor cilik bermain game dengan membawa Handphone di atas panggung. Mereka tampak khusuk berseliweran tanpa saling menghiraukan satu sama lain.

Talita membaca puisi tentang Latah, menyindir generasi yang pamer akan hal memalukan di dunia medsos, betapa banyaknya generasi tak tau lagi etika.

Naven membacakan puisi tentang manusia yang telah dikendalikan oleh robot dan berbicara dengan robot. Oryza membaca puisi tentang teknologi adalah hari ini, dimana teknologi mampu membunuh hati. Kemudian mereka sadar bahwa ternyata Kebersamaan Itu Indah, mereka berteriak dan mengajak untuk kembali menjaga kebersamaan lagi.

” Saat Fara mengajak menyanyikan sebuah lagu yang ia tulis sendiri untuk guru, dia ingin mengajarkan arti kebersamaan. Oryza mengajak menyanyikan lagu yang ia tulis sendiri tentang Indonesia, berterima kasih karena berbeda bisa bersatu. Naven menutup pementasan dengan menyanyikan lagu yang juga ia tulis sendiri, bahwa segalanya butuh perjuangan, dimana manusia tidak boleh berpangku tangan, jika kau benar, kau akan dapatkan kesuksesan. Sukses bersama dan sukses menjalin persahabatan dan perdamaian,” urai pria periang dan penyayang anak ini.

Penonton bahagia, merasa dunia yang mereka jalani diwakili oleh anak-anak Sanggar Apel dan juga dengan solusi bahwa hutan, sampah, teknologi, tradisi dan segala aset di negeri ini harus diolah, dijaga dan dikendalikan secara kebersamaan.

Tontonan yang memuat tatanan memberikan tuntunan yang berarti untuk penonton. Tepuk tangan bergemuruh rasa puas dan senang di hati anak-anak Sanggar Apel tampak luruh bercampur peluh.

“Satu tugas telah selesai, semoga tugas mengingatkan dunia dengan karya, tidak membuat anak-anak Sanggar Apel mengeluh, sebab di zaman mereka bertumbuh, mereka juga punya hak merasakan kedamaian yang orang tua mereka inginkan,” tegas Roci, Wulan dan Wira. (roci)

Video YouTube :