Teater Mandiri Tampil Dengan Membawa Pesan Moral Kedamaian Dalam Karya “PEACE”

330

Surabaya, Porosinformatif – Kedamaian menjadi sesuatu yang sangat penting saat ini. Dimana untuk mendapatkan kedamaian, yaitu menerima dengan ikhlas setia perbedaan, itu kunci sejatinya.

Cuplikan Pertunjukan Karya Putu Wijaya

Pentas yang dipunggawai oleh sang maestro Putu Wijaya di Gedung Cak Durasim Jl. Genteng Kali No. 85 Surabaya, Sabtu (23/11) kemarin malam dengan karya “PEACE”.

Pantauan wartawan Porosinformatif.com yang menyaksikan pertunjukan tersebut, tiga puluh menit sebelum acara penonton sudah berjibun. Tampak antusiasme para penonton untuk melihat kembali penampilan sang maestro Putu Wijaya. Aktor sekaligus Sutradara yang akan perform bersama Teater Mandirinya.

Begitu juga dengan generasi Muda, rasa penasaran jelas menjadi penyebab utama untuk menyaksikan perhelatan teater yang luar biasa ini.

Sambutan dari pihak penyelenggarapun memang terasa singkat, sebab pihak penyelenggara mengetahui bahwa teater itu sendiri tentu akan lebih banyak menyampaikan pesan, tanda dan makna dalam setiap tampilannya.

Pertunjukan diawali dengan dentuman suara gong dan ketegangan muncul, seakan peristiwa perang terjadi. Kemudian disusul dengan masuknya aktor Roci Marciano dan Dewa, berseliweran dengan ekspresi ketakutan sebagai pembawa prolog tentang situasi terkini.

Dilanjutkan dengan grouping Meimura dan sekelompok anak kecil yang menyanyikan salah satu lagu nasional dan akhirnya dipotong oleh Putu Wijaya sebagai tokoh yang berumur 100 tahun, bermonolog dan kalimat yang terlontarpun terkesan meneror mental para penonton. Sebab sang tokoh merindukan memakan daging manusia.

Imron sebagai ackor yang lehernya terikat tali ketakutan mencoba melepaskan diri. Datanglah segerombolan manusia berwajah putih dan berpakaian hitam-hitam yaitu Pasukan Teater Wilwatikta tampak buas ingin memangsa sang aktor.

Hingga akhirnya Ari mengancam orang-orang dengan koper, pada awalnya gerombolan takut, namun kemudian yang mengancam akhirnya diserang.

Datang Bei aktor tua yang energik mengangkat kursi dan mengancam serta mengusir, orang-orangpun lari terbirit-birit ketakutan.

“Sebab semua orang saat ini takut kursi,” ujar Putu Wijaya saat menjelaskan maksud adegan ini disaat latihan.

Adegan terus berlanjut dengan cerita yang tampaknya menguliti penyakit sosial yang ada di dalam realitas, mulai dari banyaknya pahlawan kesiangan yang dijadikan bahan olok-olok dan sindiran.

Istri pejabat yang sukanya belanja hingga membuat suami rajin korupsi, sampai persoalan rumah tangga terhimpit oleh ketakutan akan kemerosotan ekonomi.

Bahkan pedagang bakso yang mengolah dari daging tikus. Sampai seorang pengacara yang durhaka, dimassa dan di bunuh oleh masyarakat.

Hingga kemudian pertunjukan piktografik yang ditampilkan dengan penuh ketegangan dibalik layar. Semua dengan konsentrasi yang tinggi dan kreativitas yang baik ditampilkan oleh Teater Mandiri dan Teater Wilwatikta serta Meimura dan pasukannya.

Sebagai aktor Teater Mandiri yang telah terlatih dibidangya, malam itu mampu membawa pesan damai kehati penonton. Putu Wijaya sebagai aktor dan sutradara, Dewi Pramunawati, Uliel El Na’ma, Acong Ari Sumitro, Rukoyah, Taksu Wijaya, Imron Penny Moehadji, Ramdan, Jais Darga, Agung Bambang Ismantoro Cahya Ilal Wardhani. Mereka semua bermain dengan total dan sepenuh hati.

Begitu juga dengan Meimura dan Teater Wilwatikta diantaranya Roci Marciano, Alvian yoga Prastiawan, Fransiska Irmaya Irma, Kamilatul Muzia, Maria Kurniyati Nurjei, Abiyan Reinardi Dewanto, Yoshua Nicholas Siahaan, Reihan Bintang, Feronica Fabyola Septiari Andionik, Abdurrahman, Theresia Mayestina, Diana Wahyu Nikmatin, Wahyu Lazuardi, Jufriyanto, Jihan Kusuma Wardhani, Irma Novarina, Ardha Fatima Faniaena, Miftahul Jannah, Gilang Ramadhani, Arda Rana Arih Afanin, semua bermain total, menjadi satu energi dan satu kesatuan, itulah yang diharapkan oleh seluruh tim pentas pada saat itu dan secara tidak langsung semua menjadi Teater Mandiri.

Hal inilah yang dipesankan oleh  Putu Wijaya sebelum pementasan dan disampaikan oleh Bei, “Bahwa tak ada lagi kekuatan individu, yang ada kekuatan kolektif,” tegasnya.

Latihan bersama aktor-aktris Jawa Timur selama 1 jam 30 menit, ternyata mampu memberikan pementasan yang kolektif yang spektakuler. Tidak ada peran kecil dan besar di teater, semua peran itu sama kata Putu Wijaya dan semua aktor di panggung itu penting tegasnya.

Hal ini juga diakui oleh aktor Teater Wilwatikta yang terlibat, bahwa ternyata teater itu, bila dilakukan kesungguhan dan iklas ternyata mampu memberikan suatu keindahan.

Banyak juga yang tidak menyangka bahwa diusia 75 tahun Putu Wijaya masih cemerlang ingatannya dalam penataan adegan dan detil dalam penggarapan. Bahkan terpukau melihat dan mendengar Putu Wijaya dalam menasehati dan menyutradarai. Walau latihan sebentar, tetapi memberikan kesan seumur hidup, itulah yang dirasakan oleh pasukan Teater Wilwatikta kepada wartawan Porosinformatif.com. (roci)