Arisan Ala Generasi Millenial, Strategi Pewarisan Seni Tradisi Jawa Timur

Surabaya, Porosinformatif – Sekelompok generasi muda yang tergabung dalam Alumnus Keluarga Mahasiswa Konsentrasi Drama 2012 Jurusan Sendratasi FBS Unesa, menginisiasi sebuah kegiatan dalam kumpulan mereka dengan menggadakan sebuah program “Arisan Panggung”.

Salah satu adegan dalam Ludruk

Pemikiran kritis dan inovatif ini diputuskan mereka dalam pembicaraan awal setelah mereka menyelesaikan studi strata satu, keperihatinan mereka akan minat dan perhatian generasi muda terhadap seni pertunjukan tradisional Jawa Timur yang dirasa semakin lama-semakin berkurang.

Mulai dari pelaku, penggerak hingga frekuensi pementasannya, hal ini lah yang membuat mereka bersepakat membuat sebuah kegiatan yang diberi nama “Arisan Panggung D12AMA”.

Arisan panggung merupakan sebuah program kegiatan dengan mekanisme kerjanya seperti arisan yang biasa di lakukan oleh ibu-ibu, siapa diantara mereka yang terpilih maka ditempat asal mereka lah pementasan akan dilakukan dengan memilih salah satu bentuk seni teater tradisional yang ada di daerah tersebut.

Keluarga Alumni Drama 2012 ini terdiri dari 11 anggota dari berbagai tempat di Jawa Timur, adapun anggota keluarga drama 2012 terdiri dari : Septa (Trenggalek), Ferika (Mojokerto), Soul (Sumenep), Fahmi (Sidoarjo), Teguh (Tuban), Yahya (Jombang), Surya (Lamongan), Putri (Surabaya), Meri (NTB), Andre (Bojonegoro) dan Rita (Banyuwangi).

Program arisan panggung D12AMA dilakukan satu tahun satu kali secara bergiliran, tahun 2018 merupakan tahun pertama program ini dilaksanakan. Di tahun pertama ini saudara Septa yang berasal dari Trenggalek menjadi tuan rumah pertama.

Observsi tentang seni teater tradisi daerah setempat dilakukan oleh Septa, yang kemudian ditentukanlah kesenian Ketoprak sebagai pilihan yang akan di pentaskan.

Sebagai tuan rumah Septa didapuk (dipilih) sebagai sutradara, lakon yang dipilih kali ini berjudul “Warok Suromenggolo” sedangkan teman-teman lainnya harus bermain sebagai aktor dalam pertunjukan tersebut.

Pada pertunjukan perdana mereka kali ini, sebuah kehormatan bagi mereka dengan kehadiran dan kesediaan salah seorang Dosen drama jurusan Sendratasik FBS Unesa yang merupakan dosen mereka disaat berada dibangku kuliah dulu, beliau adalah Dr. Autar Abdialah, S.Sn.M.Si.

Pada tahun kedua (2019), saudara Teguh Sutrisno yang berasal dari Kabupaten Tuban terpilih sebagai tuan rumah. Saudara teguh sutrisno memilih kesenin Ludruk sebagai salah satu kesenian teater tradisi Jawa Timur untuk di pentaskan.

Lakon dipilih dan disutradarai oleh Teguh Sutrisno sendiri, “Labuh Trisno Saboyo Pati” merupakan lakon yang dipilih sebagai pertunjukan dalam arisan panggung tersebut. 

Pertunjukan dilakukan di luar ruangan (outdoor), Lapangan volly Dusun Tara’an, Desa Tegal Rejo RT 02 RW 03, Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban sebagai tempat pertunjukan yang sengaja dipilih oleh sutradara sesuai dengan komitmen D12MA 2012 bahwa keinginan mereka untuk melestarikan, mensosialisasikan dan terus menjaga keberlangsungan kesenian teater tradisi Jawa Timur dikalangan masyarakat dan generasi muda.

Teguh Sutrisno kepada wartawan porosinformatif melalui sambungan jarak jauh mengatakan bahwa, “Lakon dalam pertunjukan kali ini berkisah tentang sebuah perjuangan cinta sejati dari tokoh yang bernama Anggoro bersama tokoh wanita yang dimainkan oleh Putri. Hendro Negoro sebagai tokoh antagonis dalam lakon ini menculik anak perempuan Anjar Sidikoro dan dipaksa menikah dengannya, namun Putri tetap menolaknya. Sidarto dan Anggoro yang sebenarnya masih kerabat dari Hendro Negoro menyelamatkan Putri dengan mengadakan peperangan. Setelah diselamatkan, Putri malah merasa bersalah karena ia merasa karena perang saudara yang terjadi karena dirinya. Karena rasa bersalah tersebut Putri memutuskan untuk bunuh diri dan mengorbankan cintanya kepada Anggoro. Mengetahui putri melakukan hal tersebut maka Anggoro pun melakukan hal yang sama dengan harapan cinta sejati mereka yang tidak dapat terwujud dimuka bumi ini akan terwujud di alam setelah kematian,” uraiannya.

Kisah cinta yang romantis ini sedikit memiliki kemiripan dengan cerita Romeo dan Juliet. Sekmen lakon kisah cinta ini  dipilih oleh Teguh Sutrisno supaya kalangan generasi muda tertarik dan berharap para generasi millenial menonton.

Sehingga ketertarikan dan pewarisan kesenian tradisi pada generasi penerus dapat terwujud. Selain melibatkan para pemuda (karang Taruna) Dusun Tara’an, Desa Tegal Rejo sebagi tim produksi pertunjukan, Teguh Sutrisno sebagai sutradara juga merangkul sanggar seni yang ada di desa tersebut dengan melibatkan para pengrawit yang notabene orang-ornag tua sebagai pemusiknya.

Pertunjukan kali ini juga menjadi pusat perhatian penduduk desa dengan kehadiran Hugo Del Campo, pemuda berkebangsaan Jerman yang merupakan teman dari Soul.

Hugo Del Campo pemuda Jerman dalam adegan ludruk

Hugo del Campo pertama kali bertemu Soul ketika ia mengikuti residensi tari kontemporer, Hugo sendiri sebenarnya memiliki basic ketrampilan teater sehingga ia ingin mengetahui lebih dalam teater tradisi yang ada di Indonesia terutama Jawa Timur, dalam pertunjukan ludruk dengan lakon “Labuh Trisno Saboyo Pati” Hugo del Campo bermain sebagai tokoh dalam sekmen lawakan.

Arisan Panggung D12AMA pertama tahun 2018 dan kedua tahun 2019 sudah berjalan, gagasan kecil ini merupakan sebuah awal mula dimana berangkat dari daerah mereka masing-masing guna mensosialisasikan, mengembangkan hingga kelak dapat menjadi sebuah pewarisan kepada generasi muda yang berada di sekitar mereka tinggal untuk mencintai kesenian daerah terutama kesenian teater tradisi Jawa Timur.

“Semoga gagasan kecil ini dapat ditiru dan dikembangkan menjadi gagasan-gagasan besar lainnya oleh generasi muda untuk sama-sama mempertahankan kesenian tradisional Jawa Timur,” ucap Fahmi salah seorang anggota keluarga alumni drama 2012 yang saat ini sedang menempuh studi S-2 diakhir pembicaraannya dengan wartawan porosinformatif. (indar)