Pekat Indonesia Bersatu DPW Bali Gelar Doa Bersama Di Pura Besakih

174

Karangasem, PorosinformatifTirtha-yatra berasal dari bahasa sanksekerta yaitu kata tirtha dan yatra. Tirtha artinya air suci, air kehidupan, tempat suci yang mempunyai air suci.

Tirtha dapat juga berarti orang-orang suci, sebab orang-orang suci umumnya berada di tempat-tempat suci yang ada air sucinya. Atau, orang-orang suci juga disebut sebagai tirtha karena orang-orang suci mempunyai kekuatan suci untuk menyucikan orang, seperti halnya kekuatan yang dimiliki oleh tempat-tempat suci dan/atau tirtha. 

Di Bali tirtha berarti air suci yang sudah dimohonkan kepada Tuhan yang mana sudah menjadi wangsuh pada dari tuhan dan sudah mendapat berkat dari Tuhan.

“Semoga dengan acara thirta yatra hari ini, Pekat IB DPW Bali mendapatkan berkah dari Sang Hyang Widi Wasa agar lebih bermanfaat bagi masyarakat,” kata Ida Bagus Alit Manuaba, S.Sos.

Tirthayatra adalah perjalanan suci untuk mendapatkan atau memperoleh air suci.Tirthayatra dalam bahasa sehari-hari di Bali dipahami dengan tangkil atau sembahyang ke pura-pura.

Tirthayatra tertulis dalam Kitab Sarasamuscaya 279 yaitu keutamaan tirthayatra itu amat suci, lebih utama dari pensucian dengan yadnya dan tidak memandang orang dalam status apapun baik kaya atau miskin asal didasarkan  pelaksanaan bhakti yang tulus ikhlas, tekun, sungguh-sungguh .

Nilai kesucian atau kualitas kesucian tirthayatra lebih utama daripada membuat upacara banten, walaupun upacara itu tingkatannya utama.

Tirthayatra dilakukan oleh umat Hindu Bali sejak dulu, sejalan dengan kemajuan dan meningkatnya kesejahteraan maka tempat suci yang dikunjungi semakin luas. Umat semakin menyadari bahwa tirthayatra adalah sebuah yadnya yang paling mudah dilakukan karena dapat dilakukan oleh siapa saja. Melakukan perjalanan suci atau matirtayatra lebih utama nilainya daripada melakukan upacara yadnya.

“Perjalanan suci atau tirtayatra bukanlah perjalanan biasa untuk bersembahyang, namun didalamnya termuat pengendalian diri dan pengekangan diri. Dalam kegiatan tirtayatra terjadi suatu interaksi yang positif diantara para pelaku tirtayatra. Tirtayatra akan mendekatkan antara umat satu dengan yang umat lainnya karena dalam perjalanan akan terjadi suatu komunikasi sosial,” imbuhnya.

Tirthayatra juga mendekatkan antara umat dengan tempat suci atau pura dalam pengertian si pelaku tirtayatra akan mengetahui lebih dekat dan lebih dalam mengenai situasi, lokasi, sejarah serta nilai kesucian dan kebenaran yang terkandung pada tempat suci yang dikunjungi.

“Tirthayatra juga mendekatkan antara manusia dengan Sang Pencipta melalui pemujaan yang dilakukan di tempat suci yang dikunjungi. Dengan adanya kedekatan-kedekatan tersebut akan semakin menambah kekaguman akan kemahakuasaan Tuhan dan meningkatkan rasa bhakti kehadapan-Nya,” tegasnya.

Tirtayatra menumbuhkan kepekaan sosial, meningkatkan gairah seni dan keselarasan jiwa. Dengan cara sederhana memuja mohon restu dan anugrah kesucian. Tirtayatra akan meningkatkan keyakinan umat terhadap kebenaran dan kemahakuasaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan bertirtayatra sebenarnya telah menjaga ketiga aspek keharmonisan hidup di dunia yakni Tri Hita Karana. (toto)