Selamat Hari Guru Buat Ibu Jihan Kusumawardhani, S.Pd.,M.Sn

115

Mojokerto, Porosinformatif – Pada hari Senin (25-11-2019) SMA Negeri 1 Bangsal Mojokerto gelar Upacara Peringatan Hari Guru Nasional. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan juga  Kemenristek Dikti turut merayakan serta memberikan penghargaan terhadap para guru yang telah berjuang demi mencerdaskan anak bangsa mulai dari Sabang sampai Merauke.

Ibu Guru Jihan Kusumawardhani, S.Pd.,M.Sn dalam sekuel Teater yang diperankannya

Pada kesempatan ini wartawan Porosinformatif.com melakukan wawancara eksklusif terhadap salah satu guru yang mengajar di SMA N 1 Bangsal yakni Jihan Kusumawardhani, S.Pd.,M.Sn sebagai guru Seni Budaya.

Meskipun basicnya seni teater, tetapi ketika mengajar di sekolah dituntut harus bisa  menguasai segala yang berkaitan dengan kesenian yang ada di Negeri ini, maka Jihan juga mengajarkan Seni Rupa dan Seni Tari.

Apakah bisa melakukannya? “Bisa, hanya saja seni musik yang belum bisa dikuasai, sebab berkaitan dengan membaca notasi belum bisa,” ungkapnya.

Apa sih suka duka mengajar? “Sukanya memang pasion, karena ingin mengabdi dan mencerdaskan anak bangsa sebagai pengajar menjadi guru. Yang kedua, karena butuh untuk terus melangsungkan kerja intelektual, siswa sebagai pendorong kreativitas untuk mengasah skil yang dimiliki, sehingga dengan adanya media pembelajaran menuntut saya agar terus belajar tanpa berhenti,” ungkap Jihan.

Duka yang dialami selama menjadi pengajar adalah jarak dari rumah dan sekolahan yang jauh. Terkadang pernah juga mengalami tidak dihargai oleh murid di sekolah, sehingga terjadi ketimpangan komunikasi di sekolah, selain itu gaji yang didapat juga masih kecil, sebab sebagai guru honorer masih belum sebanding dengan pengorbanan yang telah diberikan.

Duka yang dialami juga ketika fullday untuk berbuat dalam mencerdaskan anak orang lain, tetapi sebagai orang tua jauh dengan anak sendiri.

“Hal ini yang terkadang membuat diri saya tiba-tiba menjadi pesimis. Namun disaat rasa pesimis itu datang, muncul lagi kekuatan. Semoga di masa depan saya bisa menitipkan anak saya kepada Guru yang juga mau bekerja keras dan berkorban seperti apa yang saya lakukan terhadap anak didik saya,” tegas Jihan.

“Hal inilah yang kemudian memperkuat diri saya, dengan melakukan totalitas yang bisa saya lakukan dengan harapan anak dan keturunan saya  juga mendapatkan pendidik yang total dan berani,” imbuhnya.

Wartawan porosinformatif juga mempertanyakan bagaimana dengan pendapat suami?

“Jelas di awal mendapat tentangan, bahkan sampai keluar kata, apa yang diperjuangkan, secara penghargaan finansial yang diperjuangkan juga tidak sebanding dengan apa yang dikorbankan? Hal ini terjadi sebab anak masih kecil,” papar Jihan.

Tapi kemudian dengan komunikasi yang baik, hal ini bisa saling mengerti satu sama lain.

“Akhirnya saya tetap mengajar dengan membantu para siswa untuk menemukan pasionnya masing-masing. Sebagai Master Seni tentu saja tidak mungkin menghabiskan waktu dengan mengurung di kamar, menjadi seorang pengajar selain telah menjadi passion juga bagian dari belajar. Semoga menjadi Ibu di rumah dan sekolah, yang berguna bagi orang lain,” harapannya.

Wawancara eksklusif ini sengaja dilakukan, semoga hal ini bisa menjadi pembelajaran untuk semua. Memang sampai saat ini masih banyak para guru di negeri ini masih terlunta-lunta, bahkan perjuangan dan pengorbanannya seakan tak mendapat respon yang baik dari pemerintah.

Semoga Negara dan segala pihak yang bisa mengatasi permasalahan ini, segera memikirkan kesejahteraan para guru yang Non PNS agar dunia pendidikan kita menjadi lebih baik.

Sebab kesejahteraan para guru juga akan berdampak pada kecerdasan para murid di sekolah, terutama guru GTT dan Guru Honorer. Semoga kesejahteraannya mendapat kasih dan kepedulian. (roci)