Teater Wilwatikta Surabaya Bawa “Krisis” Dalam Acara Penamata Smansa Di Sumenep

Sumenep, Porosinformatif – Pementasan Teater berjudul Krisis Oleh Teater Wilwatikta Surabaya Di Acara Penamata Smansa Sumenep, Minggu (15/12) lalu pukul 20.00 Wib.

Naskah yang ditulis Oleh Roci Marciano M. Sn. Disutradarai Oleh Alvian Bolotlavski ini dianggap sebagai gebrakan baru oleh generasi muda yang menyaksikan saat itu.

Hal ini bahkan diungkapkan oleh Pembina Penamata Hamzah Fansuri, bahwa Alvian Bolotlavski lebih sukses dengan garapannya yang sekarang dari pada yang sebelumnya.
Meskipun hal ini juga diakui oleh personil Teater Wilwatikta Surabaya itu sendiri yang juga menjadi aktor Fransiska Irmaya, Theresia, Yoshua, Abdurrahman, bahwa pada edisi kali ini mereka sedang belajar “Teater Konsep” yang digagas oleh Mackintosh.

Pertunjukan yang di awali dengan bunyi musik sebagai pertanda pertunjukan di mulai disisi lain juga ada permainan lampu. Dari sisi set wings kanan dan kiri aktor bersiap-siap untuk memulai pementasan tersebut.

Para aktor masuk dengan menggunakan tubuh animal movement atau tubuh hewan dengan tempo yang berbeda-beda sambil pelan-pelan membikin lingkaran.

Kemudian transformasi dari tubuh hewan ke tubuh manusia robot dengan berjalan lurus ke depan hingga pada akhirnya pertanda musik berhenti, lalu transformer lagi menjadi tubuh hewan selanjutnya masing-masing aktor berpasangan untuk eksplorasi tubuh hewan yang sedang bertengkar.

Selanjutnya transformer lagi menjadi tubuh manusia, berbalik arah ke belakang dengan gerakan slow motion, memakai baju kerja, jas dll serta menggunakan topeng.

Kemudian melakukan aktivitas keseharian manusia masing-masing disertai membawa kursi disamping, kursi itu dieksplorasi dalam bentuk apapun, semisal dijadikan koper, alat bangunan, handphone dan lain lain.

Setelah itu kursi ditata berjejer menjadikan suasana di kantor dan para aktor sebagai pekerja kantor dengan menggunakan gerakan serampak dan tidak serampak (eksplorasi masing-masing Aktor juga tampak bagian dari improvisasi).

Lalu terdengar bunyi bell para pekerja pulang dengan mengeksplorasi gerakan-gerakan ketika orang pulang bekerja dan itu dilakukan dalam bentuk pengulangan gerak.

Kemudian jalan pelan-pelan melakukan aktivitas kerja di kantor, masing-masing aktor berdiri di atas kursinya dengan menggunakan topeng. Topeng itu dibuka para aktor bermonolog dan berkeluh kesah dan para aktor menggunakan bahasa daerah masing-masing.

Berikutnya ditampilkan aktivitas manusia modern dengan kesehariannya, aktor mengeksplorasi kursi itu menjadi bentuk semisal handphone (selfi). Setelah itu kembali ke aktivitas masing-masing dan dilanjutkan semua berdiri di atas kursi dengan teriak yang lantang di ikuti topeng juga dilepas.

Seketika itu juga suasana menjadi hening dan lampu black out sesaat, kemudian lampu menyala lagi dengan posisi para aktor berdiri setengah dengan topeng sudah berada dalam posisi dilepas dan dihadapakan ke penonton dan sosialisasi topeng diikuti dengan pelan-pelan lampu menyala.

Pada Adegan akhir para aktor bertanya pada penonton, Jika anda menjadi Presiden apa yang akan anda lakukan? Begitu juga dengan pertanyaan yang lain menyangkut pejabat publik seperti Ketua DPR, Bupati dll.

Sayang pada adegan akhir penonton lebih banyak terkejut dan belum sempat berfikir untuk menjawab pertanyaan yang menjadi gimik.

Hingga akhirnya pementasan ini diakhiri dengan kalimat yang diucapkan serempak oleh aktor teater Wilwatikta Surabaya : “Semoga anda semua menjadi apa yang anda inginkan” Blackout. (roci)