Sabai Nan Aluih Dihadirkan Mahasiswa Dan Mahasiswi Umsida Dalam Pagelaran Teater

258

Sabai Nan Aluih adalah cerita rakyat dari Padang Tarok, Baso, Agam yang terletak di provinsi Sumatera Barat. Sabai Nan Aluih adalah nama anak perempuan dari Rajo Babanding dan Sadun Saribai. Cerita ini menceritakan tentang aksi kepahlawanan Sabai Nun Aluih dalam membalaskan kematian ayahnya kepada musuhnya yaitu Rajo Nan Panjang.

Kali ini Sabai Nan Aluih dipentaskan oleh Mahasiswa dan Mahasiswi Umsida Sidoarjo. Diawali dengan seorang Aktor melalui dendang sebuah lagu, mengajak penonton berwisata imajinasi menuju daerah Minangkabau.

Tentu saja memberikan suatu keunikan tersendiri pada pementasan ini, sebab di Tanah Jawa yang banyak menyimpan cerita dan mitologi, namun kelompok ini memilih untuk memainkan Naskah Sabai Nan Aluih.

“Teater ternyata bisa menjadi media pembelajaran kebudayaan, sebab melalui Naskah sabai nan Aluih yang ditulis oleh Roci Marciano ini membuat saya banyak belajar tentang Minangkabau. Ya setidaknya meskipun saya belum bisa ke Daerah Minangkabau, saya menjadi tau rasanya Minangkabau,” ungkap Roby sang Sutradara.

Cerita yang mengisahkan tentang keperkasaan perempuan Minangkabau ini juga disambut baik oleh seluruh aktor yang banyak perempuannya. Melalui cerita ini, ternyata feminisme di negeri ini sudah ada, sebelum kita membeo pada teori feminisme yang ada di Negeri Barat sana. Sabai sudah membuktikannya, bahkan bagi masyarakat Minangkabau, bahwa sabai dianggap sebagai gambaran Bundo kanduang yang disegani di dalam Nagari.

Naskah yang berasal dari Bumi matrilinial ini benar-benar menjadi tantangan bagi Roby, sebab perbedaan kultur yang cukup jauh membuat Ia banyak melakukan Observasi, baik itu melihat youtube, google, bahkan mencari orang Minang untuk mencari keterangan.

Memang harus diakui, bahwa tidak ada proses yang sempurna, tapi setidaknya tampak usaha dalam garapan yang dihadirkan. Hanya saja memang dibeberapa tokoh dan aktor ada yang lupa tergarap, seperti makeup dan kostum.

Bahkan komentar dari sebagian penonton ialah simbolisasi tentang Minangkabaunya belum banyak, yang terasa Jawanya masih terlalu kental, baik itu dari busana, maupun kain bercorak batik yang dibentangkan.

Akan tetapi secara pesan-pesan moral, penonton mendapatkan banyak hal, terutama tentang betapa pentingnya ilmu sebagai pelindung manusia, seperti ungkapan pepatah yang disampaikan pada pementasan ini. “hidup berakal, Mati beriman. Hidup kurang akal, Mati ditipu teman”.

“Penonton merasa bahagia dengan banyaknya pesan moral yang sampai pada pementasan sabai ini, hingga tepuk tangan menghiasi adegan yang dimainkan. Karena pementasan juga masih dimainkan oleh para pemula,” imbuhnya.

Adegan kematian yang menggunakan senjata pistol, masih terasa janggal di pandang mata, misalnya ketika aktor menembak, tak ada terdengar suara tembakan, bahkan yang tertembak, tersenyum dan pura-pura mati.

Mungkin sang aktor merasa kurang nyaman, sebab tak dibantu dengan spektakel suara tembakan. Sebagai pemula dan untuk Mahasiswa/mahasiswi UMSIDA PGSD, tentu saja pementasan ini memiliki suksesnya sendiri, yakni kepuasaan. Dimana melalui teater bisa belajar Budaya suatu daerah yang ada di Nusantara yaitu Minangkabau.

Reportase by : Roci Marciano