VIRUS DISEBAR SELAMA EMPAT BELAS BULAN, MUNCAR DEMAM SASTRA

Banyuwangi, Porosinformatif – Sastra menurut Mursal Esten adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia dan masyarakat melalui bahasa sebagai medium, serta memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusian).


Kemarin Sabtu (1/02) Muncar diguyur hujan sejak siang hari. Terpantau oleh Porosinformatif beberapa anak muda sedang sibuk memasang Lighting dan tata panggung sederhana di Pendopo Kantor Desa Sumber Beras, Kecamatan Muncar, Kab. Banyuwangi. Setelah ditelusuri. Hal itu, dilakukan karena malamnya akan digelar acara Selapan Sastra ke 12.

Selapan Sastra adalah komunitas sastra yang berkantor di Jl. Brawijaya Timur Koramil Muncar. Tepatnya berada di Dusun Muncar Rt/Rw 003/002, Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar. Komunitas Selapanan Sastra digawangi oleh Taufik Wr, S.A.W Notodihardjo, Cimenk Sahrul, Adi bolang, Agus SB, Tantra, Bagas, EP. Al Batiruna, DKK.

Selapanan Sastra mulai menyebarkan Virus sastra di wilayah Muncar sejak berdiri empat belas bulan yang lalu. Selapan sastra sudah menggelar 12 kali acara dengan berpindah – pindah dari balai desa ke balai desa di sekitaran Muncar.

“Selapanan Sastra juga pernah digelar di halaman belakang Dinas Pariwisata Banyuwangi beberapa waktu yang lalu. Tujuan acara ini digelar tidak lain sebagai upaya menghidupi sastra meski dengan nafas kecil, selain itu, ini adalah upaya memasyarakatkan sastra, menjaring bibit – bibit penggiat sastra di daerah Desa. Karena selama ini di Banyuwangi sastra hanya dinikmati di daerah perkotaan saja,” tutur S.A.W Notodihardjo, kepada Porosinformatif.

“Intinya, selapanan sastra itu adalah wadah untuk kita mengapresiasi, dan mengekspresiakan karya sastra. Dan mendekatkan sastra kepada masyarakat, sehingga sastra dapat berkembang di desa” tegas Cimenk Sahrul.

Malam menjelang. Hujan masih tetap tumpah. Langit seolah ingin ikut merayakan pesta sastra tersebut. Satu persatu tamu undangan berdatangan melebur dengan masyarakat sekitar yang rela menggendong anak balita mereka demi menikmati pertunjukan sastra.

Dalam waktu sekejap pendopo kantor Desa Sumber Beras dipenuhi oleh ratusan orang. Mulai dari sastrawan / penyair, seniman teater, pelajar, guru, dan masyarakat umum dari anak- anak hingga dewasa ikut berpartisipasi.

Pukul 19.00 Wib. Acara dibuka. Diawali sambutan Kepala Desa Sumber beras ibu Sri Purnanik. Dilanjutkan sambutan ketua panitia. Pentas sastra di mulai. Beberapa penampilan sastra disuguhkan mulai dari Teaterikalisasi puisi, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, musik, dan lain-lain. Bukti bahwa virus sastra telah menjangkiti masyarakat Muncar, itu terlihat dari deretan pengisi malam itu. Wahyu Lebaran (penyair), Yuliati (Guru SMP 17 Agustus 1945 Muncar), S.A.W Notodihardjo (penyair), Devika N Baity (juara 1 cipta puisi MGMP bahasa 2019), Sinar Teater (SMP Muhamadiyyah 10 Muncar), Kahareza (Guru dan pegiat sastra), Bayu (pelajar SMP), Cimenk sahrul (penyair Ndeso) yang berkolaborasi apik dengan Izzat & Fitri Tiara Dewi, Aruna anak berumur 3,5 tahun yang tampil membius, Maiyah Banyuwangi berkolaborasi dengan EP. Al Batiruna (pegiat sastra dan mahasiswa STKW Surabaya) dan Spesial perform dari Pramu Sukarno (Dewan Kesenian Banyuwangi).

Selain itu acara ini juga dimeriahkan oleh Garuda Musik. Meski sederhana penonton terlihat antusias dan hikmat menyaksikan pertunjukan berlangsung.

Pukul 21.00 acara pentas usai, dilanjutkan diskusi sastra dipantik oleh Taufik Wr Hidayat atau lebih akrap disapa Kang Fiq. Beliau menuturkan acara ini disebut Selapanan Sastra karena acaranya digelar sebulan sekali, dalam hitungan penanggalan jawa (selapan).

“Peradapan pertama manusia adalah sastra/ bahasa. Sastra juga sebagai bahasa penyampai. Bahasa bisa diungkapkan melalui apa saja. Maka dari itu kita harus mengetahui apa manfaat dan fungsi sastra itu,” imbuhnya .

Senada dengan kang Fiq. Seniman Pemilik Padepokan Alang-alang Kumitir juga menegaskan, Sastra adalah bahasa ungkap. Pengungkapanya bisa melalui bahasa tubuh, ataupun lainya. Sehingga kita sebagai pengkarya jangan terbelengu dengan definisi sastra yang normatif.

Cita- cita dan semangat para pemuda Muncar untuk memasyarkatkan sastra perlu di contoh. Karena hari ini mencari pemuda yang mau peduli dengan sastra sudah sangat langka, ungkap Itong Mulyadi (penyair dan pegiat sastra jawa).

“Kita harus terus mendukung acara ini, agar sastra terus bisa tumbuh selama manusia masih hidup. Lalu bagaimana dengan daerah lain?,” ujarnya.

Reportase by : Ismail
Editor by : Totok Waluyo