Ketua Satgas Penanganan Covid 19 : Bali Adalah Bagian Integral NKRI, Lock Down Untuk Bali Bukanlah Pilihan

39

Denpasar, Porosinformatif : Live conpress digelar Satgas Penanganan Covid 19 Provinsi Bali yang diketuai Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Jum’at (27/03) terkait update terkini status Covid 19, sinergitas dengan Universitas Udayana, serta menanggapi kejadian penutupan jalan pada hari Kamis (26/03).

Guna penanganan PDP dan pasien positif Covid 19, Gubernur Bali mengupayakan Rumah Sakit Khusus dengan menggandeng Universitas Udayana. Sinergitas Pemprov Bali dan Unud telah disepakati sore tadi saat rapat bersama Satgas dan Rektor Universitas Udayana, sehingga segera dilaksanakan persiapan-persiapan dan diharapkan sudah siap dalam satu minggu ke depan.

“Terus memperketat karantina bagi pekerja yang pulang dari luar negeri, terutama dari 10 negara terjangkit covid 19. Atau dari Negara lain, tetapi dalam riwayat perjalanannya 14 hari terakhir pernah singgah di negara terjangkit. Untuk itu orang tua, kerabat dan masyarakat harus menerima dengan baik kebijakan ini, karena ini tanggung jawab kita bersama,” ujar Sekda saat live conpress sore tadi.

Adapun untuk mempercepat penanganan dan kepastian status orang baik pada PDP maupun ODP, Satgas terus mengupayakan penggunaan PCR dan juga Rapid Test.

“Kita sebagai Satgas terus menghimbau kepada seluruh masyarakat Bali, agar tetap waspada bahkan meningkatkannya karena penyebaran Covid 19 ini masih menunjukkan tren peningkatan secara Nasional. Covid 19 bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh, tapi harus dengan sikap kewaspadaan tinggi,” tegas Ketua Satgas, Dewa Made Indra.

Sesuai himbauan Gubernur Bali terkini, masyarakat diminta untuk meniadakan segala bentuk kegiatan hiburan dan keramaian yang melibatkan banyak orang.

“Saat ini sudah waktunya bagi kita, untuk tidak lagi mentoleransi keramaian dengan orang banyak. Pemerintah akan semakin tegas untuk melakukan pengawasan dalam hal ini,” imbuhnya.

Dalam waktu yang bersamaan, Sekda juga menanggapi himbauan Gubernur Bali pada tanggal 26 Maret kemarin, yang dalam pelaksanaan terjadi disinformasi sehingga mengakibatkan penutupan jalan di beberapa titik kota.

“Kejadian tanggal 26 Maret (ngembak geni), arahan Gubernur adalah untuk meniadakan tradisi simakrama dan rekreasi masyarakat saat ngembak geni yang tidak sesuai dengan strategi untuk menjaga jarak (physical distancing),” katanya.

Namun di bawah, bervariasi menterjemahkan arahan tersebut dan ada desa adat yang lebih keras dengan penutupan jalan. Untuk itu ada arahan baru pada sore harinya, dimana kebijakan tersebut hanya untuk tanggal 26 Maret, “untuk hari selanjutnya tidak diperkenankan untuk menutup jalan (hanya arahan untuk tidak keluar rumah). Jadi itu bukan lock down, hanya mencegah orang tidak melakukan kegiatan keluar rumah serangkaian ngembak geni,” urai Sekda.

Satgas ingin menegaskan sekali lagi, langkah lock down tidak menjadi pilihan oleh pemerintah Indonesia sehingga daerah pun tidak menggunakan langkah tersebut.

“Saya ikuti dinamika yang banyak menyerukan untuk lock down, namun saya tegaskan bahwa Bali adalah bagian integral NKRI, yang tidak lepas dari kebijakan pusat. Di Bali lock down bukan pilihan,” tegasnya.

Sebelum menutup live conpress, sekali lagi Satgas menghimbau kepada masyarakat agar tidak membuat dan menyebarkan informasi-informasi yang tidak benar, menyesatkan dan menambah kepanikan masyarakat. Satgas juga meminta agar aparat hukum dalam hal ini Kepolisian, untuk menindak tegas bagi mereka yang menyebarkan informasi hoax.

Reportase by : Totok Waluyo