BERSULANG

Oleh : Wiwied Wiji
Seniman & Guru Seni

Di tengah rencana pemerintah melonggarkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar dan memulai New Normal, yang dikatakan sebagai cara hidup baru di tengah pandemi, “Drama Corona” belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Hal ini ditandai dengan masih meningkatnya jumlah orang yang dinyatakan sebagai suspect sehingga harus dikarantina, oleh sebab proses protokoler yang mengacu kepada standar keamanan dan kesehatan yang telah ditetapkan oleh WHO. Alhasil, tatacara standar protokoler yang sebenarnya diciptakan untuk mencegah beredarnya virus Covid-19 yang konon kabarnya mematikan – pada akhirnya juga merenggut hidup dan hajat kehidupan banyak umat.

Orang yang diklaim sebagai penderita Corona, mati!. Entah disebabkan oleh penyebaran virus atau karena psikisnya yang tertekan, sehingga menjadi stress, depresi bahkan frustasi. Kabarnya, ada juga yang sampai mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri.

Sepertinya, hal ini lebih disebabkan oleh komplikasi ketakutan pada tata cara penetapan sebagai suspect, tidak punya uang juga tidak punya pekerjaan.

Suspect yang lebih banyak dari golongan masyarakat dengan strata ekonomi menengah ke bawah ini, mendadak mengalami penurunan imun secara drastis ketika mendapatkan penjemputan, karantina, hingga penanganan dan biaya yang hampir tidak pernah ada publikasinya, daripada sebab sakit yang ditimbulkan oleh virus Covid-19 itu sendiri.

Bagaimana tidak stress, jika mereka dijemput oleh iringan orang-orang berhazmat yang sebelumnya tidak pernah mereka lihat, disertai polisi dan tentara, serta pandangan sinis dari orang-orang di sekitar tempat tinggalnya.

Ketaknyamanan bergaul yang bertumbuh dari kebijakan Pembatasan Sosial juga berangsur membuat masyarakat “mati” kepercayaannya kepada pemangku kebijakan, juga kepada teman, saudara, bahkan dirinya sendiri.

Paranoid! Di tengah maraknya usaha pembatasan penyebaran dan pemberantasan Corona ini, “virus” lain yang tak kalah mematikannya, juga tumbuh menjangkiti orang-orang. Ini menyebabkan mereka mendadak berubah menjadi monster pemakan sembarang. Memakan masker, memakan hand sanitizer, vitamin, alat-alat medis, bahan baku kebutuhan dan kelengkapan kesehatan, media pencegahan virus dan (akhirnya) memakan sistem kebijakan, sehingga lahir kebijakan dan metode pencegahan yang tak berperasaan, yang membuat masyarakat berhadapan dengan kematian jati dirinya.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, di masa sulit seperti sekarang ini, tanpa kita tahu dan sadari, juga berimbas pada tata kehidupan berbudaya dan berkesenian.

Dalam kehidupan berbudaya, komunitas masyarakat seolah memiliki otoritas atas kehidupan dan penghidupan orang atau masyarakat lain, berdasarkan keyakinan dirinya sendiri. “Virus” ini membuat orang tak lagi bertegur sapa dengan ramah, tak lagi bisa bersalaman dengan nyaman, tak lagi bisa saling menolong dengan ikhlas, tak lagi saling bertandang tanpa curiga, mereka tak saling kenal dan menjadi asing satu dengan yang lainnya.

Terjadi Alienasi dan degradasi. Ada rasa Keterasingan !! Mereka seolah memiliki otoritas atas kehidupan dan penghidupan orang lain, berdasarkan keyakinan diri mereka sendiri. Anak tak percaya pada orang tuanya, begitupun sebaliknya, sehingga kebudayaan yang mengajarkan asah, asih, asuh seolah hanya menjadi artefak belaka.

Sementara itu, dalam wilayah berkesenian, lembaga pengayoman tak lagi bisa mengayomi, bahkan telah menjadi lembaga pengebiri. Banyak program acara yang dibatalkan, menangguhkan dukungan kepada para seniman, terlebih pada seniman yang berani mengkritisi, sehingga proses kreatif jadi amburadul, jadwal tak pasti, pembiayaan bengkak dan keberlangsungan prosesi kesenian mandeg.

Begitupun dengan pelaku keseniannya, mereka menjadi terkotak-kotak, banyak seniman yang “terpaksa banting stir” (meski bukan seorang sopir) menjalani profesi yang bukan menjadi bidangnya. Menjadi sopir ojol, kurir, kuli bangunan, pengamen jalanan, atau apa saja asal bisa menyambung hidup.

Bagi yang sudah akrab dan paham teknologi, mereka bisa berkarya sendiri atau berkolaborasi membuat karya dan acara lewat daring yang kesannya latah, namun bagi pelaku seni yang lebih senior, membuat mereka makin terpuruk karena “lahan garapannya kering kerontang”.

New Normal, yang awalnya dianggap sebagai cara hidup baru ditengah pandemi virus, berangsur menjadi gaya hidup dan kecenderungan (trend) baru, yang menjadikan “kematian” wajar menjadi tak normal. Orang-orang menjadi asing pada dirinya dan terasing di lingkungannya sendiri.

Pada akhirnya, melonggarnya kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (lock down) dan dimulainya New Normal, masyarakat secara tidak sadar telah menyambut “kedatangan” ketaknormalan menjadi budaya baru. Mereka sepertinya senang dan ingin berpesta untuk menyambut kehadiran kenormalan baru yang tak normal sambil bersulang.

“Selamat tinggal Lock down, selamat datang New Normal. Mari kita berpesta”

Editor : Totok Waluyo