Diduga Serobot Lahan Fasilitas Umum, Mantan Perbekel Gunung Sari Di Polisikan

889

Buleleng, Porosinformatif – Mantan Kepala Desa Gunung Sari Made Astawa yang pernah menjabat sebagai kepala desa 2014-2019 lalu, diduga warga Gunung Sari telah melakukan penyerobotan lahan fasilitas umum, yang didalamnya ada bangunan Kantor Desa, Sekolah Dasar (SD) 1 dan 2 Gunung Sari, Poskesdes dan Sekolah TK.

Dugaan ini bukannya tanpa sebab, karena tanpa sepengetahuan warga lahan fasilitas umum tersebut sudah ber – SHM atas nama mantan Perbekel Made Astawa.

Keributan pun tidak terelakan, karena Made Astawa tiba-tiba mendatangkan alat berat ke lokasi untuk merobohkan bangunan yang ada diatas lahan yang diklaim miliknya atas dasar sertifat yang di keluarkan oleh BPN/ATR Buleleng.

Kepala Desa Gunung Sari Ketut Pastika SH., kepada wartawan Porosinformatif.com mengatakan, memang benar telah terjadi keributan antara Made Astawa dengan warga Gunung Sari.

“Saya selaku Perbekel harus hadir ditengah-tengah masyarakat, dimana pada hari ini berjuang mempertahankan haknya. Apalagi itu fasilitas umum,” katanya.

Ketut Pastika menambahkan, bahwa dirinya beserta beberapa tokoh masyarakat sudah melaporkan kasus ini ke Polres Buleleng.

“Kami bersama-sama tokoh masyarakat sudah menduga pada saat pemindahan dan pengosongan kantor desa dan sekolah dasar sejak Made Astawa masih menjabat kepala desa,” jelas Pastika.

“Ternyata sangkaan masyarakat benar adanya. Tiba-tiba pada tahun 2019 sudah keluar SHM diatas sebidang tanah fasilitas umum tersebut,” tambahnya.

Padahal lahan tersebut sudah dihibahkan sekitar 80 tahunan oleh orang tuanya Made Astawa yang juga pernah menjabat sebagai Kepala Desa Gunung Sari.

“Tahun 1940 sudah dibangun Sekolah Rakyat (SR), namun hanya sampai kelas lll. Tahun 1953 baru dibangun SD 1 dan 2 Gunung Sari, dilanjut tahun 2001 dibangun Kantor Desa sampai 2018 dan di samping kantor desa ada Poskesdes dan TK yang masih ditempati sampai saat ini,” beber Perbekel yang menjabat saat ini.

Dihari yang sama dan ditempat berbeda I Gede Suradnya selaku tokoh masyarakat juga mantan Kepala Desa Gunung Sari tahun 2007- 2013, sekaligus sebagai Ketua DPC Basus D-88 Lembaga Aliansi Indonesia Kabupaten Buleleng mengatakan hal yang sama terkait lahan yang diklaim hak milik oleh pihak Made Astawa.

“Pada masa saya masih menjabat sebagai kepala desa, keluarga Made Astawa pernah mengajukan permohonan atas lahan tersebut, namun tidak bisa, entah kenapa sekarang kok sudah muncul SHM yang diterbitkan oleh BPN/ATR Buleleng, ada apa ini?,” ujarnya.

Oleh karenanya, Suradnya baik secara personal sebagai warga masyarakat maupun secara kelembagaan Basus D-88 akan terus mengawal kasus dugaan penyerobotan lahan.

“Bagaimanapun juga ini demi kebaikan warga. Meski saya pribadi sangat menyayangkan tindakan penyertifikatan sepihak oleh saudara Made Astawa. Hanya karena dunia, nama baik keluarganya dikorbankan,” tegasnya.

Editor : Totok Waluyo
Reportase : Totok Waluyo