Yayak Priasmara Peraih Jejak Virtual Aktor Terbaik Nasional, Penerus Kentrung Tulungagung

82

Jaman memang sudah memasuki era teknologi digital. Segala entertainment tersedia disana. Namun hiburan tradisionalpun juga masih ada peminatnya, seperti Seni Tutur Kentrung Tulungagung.

Tulungagung, Porosinformatif – Dari tangan seorang seniman yang merupakan generasi penutur seni almarhumah Mbah Gimah, Seni Tutur Kentrung masih digandrungi di daerahnya. Napak tilas perjuangan Seni Tutur Kentrung, merupakan wujud tanggung jawab pewaris kesenian beliau. Dimana semasa hidupnya mengabdikan jiwa raganya untuk kesenian hingga akhir hayatnya.

Yayak Priasmara seorang putra daerah Tulungagung lulusan Universitas Negeri Malang, mengembangkan kentrung dengan memulai mendirikan sanggar seni Gedang Godhok. Mengkreasikan Kentrung dengan banyak pemain ditampilkan bersama gaya lebih kekinian, sangat menghibur dan sering pentas di event- event besar Kabupaten hingga diluar daerah.

Berkat tangan dinginnya, Seni Tutur Kentrung bisa eksis dan konsisten serta membuat pelaku didalamnya semakin matang dan mahir.

Dua bulan lalu Kemendikbud merilis Jejak Virtual Aktor tujuannya ialah memfasilitasi seniman untuk berkarya dengan sistem kompetisi secara nasional. Salah satu tangkai seleksi didalamnya ialah Seni Tutur.

Yayak menjadi salah satu peserta dari 630 an peserta penutur se-Indonesia. Segala persiapan dilakukan dengan baik olehnya. “Mulai dari menyusun konsep, cerita, sampai latihan diperhitungkan dengan matang,” ujar Yayak kepada Wartawan Poros Informatif.

“Seminggu menyusun isian dalam pertunjukan, bongkar pasang materi yang dipakai, sembari latihan sampai perekaman dan dikirim pada laman Kemendikbud,” imbuhnya.

Judul Uthak-Uthak Ugel, dibawakan dengan apik dan epik serta “entheng”, namun syarat pesan tersampaikan.

“Pesan pentingnya jangan serakah, memakan semua yang bisa dimakan. Sampai hendak memakan si-mboknya sendiri. Hingga diusir dari rumah. Mencari makanan dihutan dan makan sangat banyak, merasa hampir tersedak saat meminum air laut sampai surut. Perut membesar sampai seperti gunung. Hingga datanglah yuyu (kepiting_red) mencapit perutnya dan akhirnya perutnya meletus,” terangnya.

Hal inilah yang mengantarkannya menjadi yang terpilih diantara ratusan kompetitor, “tahap seleksi 50 besar lolos sampai akhirnya diputuskan 20 peserta terbaik,” ujar Yayak seraya membuktikan kepada Tulungagung dan Indonesia, bahwa generasi penutur kentrung masih hidup seperti sebelumnya.

Editor : Totok Waluyo
Reportase : Welly Suryandoko