Strategi Produksi Seni Pertunjukan Di Masa Pandemi Oleh Elyda K. Rara

76

Singosari, Porosinformatif – Efek berantai kondisi di tengah pandemi tidak hanya melibas bidang tertentu, namun berimbas ke bidang kesenian juga. Hal inilah yang membuat para pelaku seni mencari cara ataupun strategi guna menjaga ke-eksistensian dalam berkesenian di masa pandemi.

Sanggar Teater Kamateatra di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Malang yang digawangi oleh Elyda K. Rara mencoba untuk memberikan tips and trik guna survive (bertahan_red) berkesenian di tengah pandemi yang melanda, Sabtu (29/08).

Sebagai produser perempuan Indonesia yang juga memiliki jejaring dengan para produser lainnya di Indonesia melalui sebuah program temu Produser, Elyda memiliki ruang diskusi sehingga beban berat produser yang disandangnya di masa pandemi ini menjadi sedikit ringan.

Lebih lanjut Elyda sebagai Produser Kamateatra Art Project, “saya berusaha mencari strategi-strategi untuk tetap memproduksi karya dengan skala kecil agar produksi Kamateatra tidak terputus hanya karena pandemi ini,” kata Elyda yang juga merupakan seorang Guru di SMAN 1 Lawang dan Ibu dari satu anak ini kepada Wartawan Porosinformatif.com.

Kamateatra sudah memulai pendokumentasian karya jauh sebelum pandemi melanda dan disimpan melalui kanal Youtube yang dimilikinya. Dimana memasuki masa pandemi, Kamateatra meluncurkan ideom baru dengan nama “Teater Digital” dengan memanfaatkan kanal Youtube dan berbagai media sosial lainnya sebagai pengganti panggung konvensional.

“Sudah 10 karya diciptakan Kamateatra di masa pandemi. Kami sajikan melalui berbagai media sosial sehingga pertemuan antara karya dan penonton dilakukan melalui virtual,” imbuhnya.

Strategi Teater Digital dipilih Elyda sebagai produser merupakan salah satu alternatif agar produktifitas karya dari Kamateatra tetap berlangsung, alternatif ini sudah barang tentu juga memerlukan infrastruktur yang lengkap mulai dari peralatan kamera, editing hingga sumber daya manusia yang berkompeten di dunia tersebut. Sehingga Elyda harus mempersiapkan semua hal tersebut dengan membuka jejaring pada teman-teman sinematografi untuk dapat berkolaborasi dalam pembuatan karya di masa pendemi.

“Semoga pilihan-pilihan media baru terus bermunculan dari berbagai produser dan kelompok seni yang ada di Indonesia agar karya seni pertunjukan tidak serta merta berhenti dan pasrah akan keadaan saat ini,” terangnya menutup pembicaraan kali ini.

Editor : Totok Waluyo
Reportase : Indar Sabri