Bentuk Dan Estetika Skenografi Teater Di Tengah Pandemi

63

Tretes, Porosinformatif – Pergeseran dan perubahan segala bentuk dan medium dalam seni pertunjukan terutama Seni Teater di masa pandemi mengakibatkan segala unsur pembentuknya mengalami perubahan secara signifikan tanpa terkecuali Skenografi (tata artistik) dalam pertunjukan teater.

Diskusi yang diinisiasi oleh Sandi Tramiaji Junior, S.Pd., M.Pd, Selasa (01/09) melalui Instagram milik pribadinya @sanditramiajijunior, bertemakan keberadaan Skenografi seni pertunjukan pada medium-medium alternatif yang digunakan sebagai pengganti panggung di tengah pandemi.

Dalam diskusinya, Sandi berkonsentrasi pada Skenografi panggung, mengundang narasumber Teguh Sutrisno, S.Pd dengan akun @teguh_sutris, merupakan seorang Sutradara Teater asal Tuban. Teguh memaparkan, dengan penggunaan berbagai media baru di masa pandemi ini sebagai pilihan para Sutradara dalam menciptakan karya seni pertunjukan terutama teater, keberadaan tata artistik atau skenografi kurang diperhatikan.

“Konsentrasi para Sutradara lebih pada bagaimana di masa pandemi ini tetap menciptakan karya dan pemilihan medium yang cocok untuk karya tersebut agar sampai pada penonton,” ujarnya.

Tampak dalam diskusi, Fahmi yang juga skenografer menyampaikan pendapatnya, bahwa tata artistik dengan penggunaan berbagai medium alternatif selain panggung konvensional yang cukup efektif dipergunakan saat ini adalah penggunaan dan perancangan skenografi berbasis simbol-simbol.

Dalam kesempatan berbeda Wartawan Porosinformatif.com berhasil menghubungi Sandi dan berdiskusi perihal beberapa kegelisahan Sandi sebagai seorang skenografi dimana karya-karya seni pertunjukan yang diciptakan di masa pandemi ini banyak yang menisbikan keberadaan unsur skenografi dalam karyanya.

Pertunjukan-pertunjukan yang berlatar belakang ruangan kamar atau bahkan perpustakaan pribadi yang pernah dilihatnya sama sekali tidak memperhitungkan unsur-unsur yang ada pada prasyarat Skenografi.

“Keberadaan ruang sesungguhnya atau dalam kata lain sesuai realitas yang ada tanpa sentuhan ilmu skenografi, tanpa sadar akan membuat sebuah permasalahan estetika secara keseluruhan dalam pertunjukan tersebut,” terang Sandi.

“Sedikit resume bahwa di masa pandemi ini segala aspek dan unsur pembentuk dalam seni petunjukan terutama teater masih memerlukan kajian dan pencarian-pencarian bentuk alternatif yang sejalan dengan berbagai alternatif medium yang digunakan,” sampaiannya diakhir diskusi malam itu.

Editor : Totok Waluyo
Reportase: Indar Sabri