Profesi Wartawan

41

Oleh : Totok Waluyo
Pemred Porosinformatif.com

Sebelum saya ulas lebih lanjut, perihal profesi kewartawanan. Pertama saya akan bercerita sedikit tentang apa itu profesi Wartawan.

Arti Wartawan secara bahasa sederhana adalah seseorang yang tugas pokok fungsinya (tupoksi) memberikan informasi kepada khalayak dengan data sesuai fakta di lapangan. Namun dilansir dari Wikipedia Bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas ; Wartawan atau jurnalis atau pewarta adalah seseorang yang melakukan kegiatan jurnalistik atau orang yang secara teratur menuliskan berita (berupa laporan) dan tulisannya dikirimkan/dimuat di media massa secara teratur.

Laporan ini lalu dapat dipublikasi dalam media massa, seperti koran, televisi, radio, majalah, film dokumentasi, dan internet. Adapun tugas utama Wartawan mencari sumber mereka untuk ditulis dalam laporannya; dan mereka diharapkan untuk menulis laporan yang paling objektif dan tidak memiliki pandangan dari sudut tertentu untuk melayani masyarakat.

Nah, kini kita sudah mengerti apa tupoksi seorang Wartawan.

Profesi Wartawan di mata pelakunya merupakan profesi yang Mulia. Mengingat selain daripada penyedia informasi bagi khalayak, seorang Wartawan juga berfungsi sebagai “Kontrol Sosial” dalam kehidupan sehari-hari yang dilindungi oleh UU Pers No. 40 Tahun 1999.

Namun hal ini, tidak semerta-merta menjadikan seorang Wartawan kebal terhadap hukum yang berlaku. Selama dalam membuat pemberitaan, seorang Wartawan mempunyai Data-data akurat, Narasumber serta mematuhi Kode Etik Jurnalistik.

Apa sih “Kontrol Sosial” bagi seorang yang berprofesi sebagai Wartawan. Bilamana dalam praktek kesehariannya, seorang Wartawan menemukan sebuah peristiwa yang merugikan masyarakat terkait pelayanan, sosialisasi serta ketidak-adilan. Maka sudah menjadi tugas Wartawan guna meng-klarifikasi kepada instansi terkait.

Contoh pemberitaan seperti dibawah ini :

http://porosinformatif.com/2020/08/18/layangan-oh-layangan-antara-hobby-dan-penyebab-listrik-padam/

http://porosinformatif.com/2020/06/27/tim-lawyer-kuasa-hukum-made-astawa-klien-kami-bukan-menyerobot-namun-mempertahankan-hak-sebagai-ahli-waris/

Seorang Wartawan bebas klarifikasi terhadap siapapun dalam setiap peliputannya, sepanjang hal yang dilakukannya sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik dan Tupoksi Wartawan itu sendiri.

Sering terbersit sebuah pertanyaan, bilamana saat mengklarifikasi sebuah data temuan di tengah masyarakat, namun dalam prakteknya ada yang menghalangi saat peliputan, bagaimana sikap dan cara menghadapinya ?

Jawabnya sederhana : Tetap bersikap tenang, dewasa, kontrol suasana dengan menunjukan ID Card Kewartawanan dan bilamana ada tindakan intervensi, poto dan laporkan ke pihak berwajib.

Kenapa demikian : Dalam Undang-Undang Pers No. 40 Tahun 1999, seorang Wartawan dilindungi oleh Hukum yang berlaku. Dan tindakan yang mengacu provokasi saat Wartawan melakukan peliputan, bisa dipidanakan sesuai Pasal 18 pada BAB VIII yang berbunyi : “Setiap orang yang secara melawan hukum dengan melakukan tindakan yang berakibat menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat (2) dan ayat (3) dipidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau denda paling banyak Rp. 500.000.000,- (Lima ratus juta rupiah).

Ok Sobat Jurnalistik, sekarang kita bisa lebih yakin akan tugas utama seorang yang berprofesi sebagai Wartawan.

Intinya Profesi Wartawan yang kita sandang, haruslah kita amalkan atau contohkan kepada masyarakat. Kembali saya ingatkan, karena Wartawan adalah Kontrol Sosial di mata masyarakat. Dimana masyarakat percaya, bahwa seorang Wartawan adalah orang yang smart karena pengetahuannya.

Bila kita mengerti perbuatan atau hal tersebut salah di mata masyarakat, janganlah kita melakukannya karena ke-Egoisan kita sebagai Wartawan. Salam Satu Pena.

“Pers Bermutu Bangsa Maju”

Editor : Totok Waluyo