Angkat Martabat Kebudayaan Bali, Gubernur Koster Segera Bangun Padma Bhuwana

Editor : Totok Waluyo | Reportase : Totok Waluyo

Klungkung, Porosinformatif – Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru, merupakan bukti nyata keseriusan Gubernur Bali Wayan Koster dan Wakilnya guna mengangkat martabat Kebudayaan Bali sebagai Pusat Peradaban Dunia atau Padma Bhuwana.

Hal tersebut terlihat saat Gubernur Wayan Koster melakukan Konsultasi Publik Rencana Pembangunan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Kabupaten Klungkung, Senin (16/11) yang berlangsung di Balai Budaya Ida I Dewa Agung Istri Kanya.

Wayan Koster menjelaskan, kawasan Pusat Kebudayaan Bali yang berlokasi di Eks Galian C Gunaksa ini semula merupakan wilayah yang rusak, tergenang dan terbengkalai, karena pasca Gunung Agung Meletus pada tahun 1963 menjadikan lahan persawahan subur tersebut tertutup aliran lahar dingin lebih dari 300 Ha.

Kemudian sejak tahun 1963-2002 wilayah tersebut (Pesisir Tangkas, Gunaksa, dan sekitarnya, red) menjadi lokasi penambangan Galian C.

Sehingga menyebabkan lingkungan sekitarnya rusak, banyak kubangan, menjadi sumber penyakit, serta menjadikan perizinan penambangan Galian C ditutup Pemkab Klungkung.

“Tidak berhenti sampai disana, tahun 2002-2017 wilayah Pesisir Tangkas, Gunaksa, dan sekitarnya menjadi lahan kosong, terbengkalai dan beberapa usul ide yang muncul untuk pengelolaan wilayah tersebut juga gagal,” katanya.

Bahkan di tahun 2017 Erupsi Gunung Agung mengalirkan lahar dalam jumlah besar, menyebabkan wilayah galian ini semakin tidak bisa dimanfaatkan.

“Oleh karena itu, kita harus melakukan upaya pelindungan dan menata, sekaligus mengembangkan wilayah ini menjadi bermanfaat untuk masyarakat Bali dan Klungkung khususnya,” ujar Koster disambut gemuruh tepuk tangan oleh masyarakat di Desa Tangkas, Desa Jumpai, Desa Gunaksa, Desa Sampalan Klod, Desa Gelgel dan tokoh masyarakat di Klungkung seraya mengatakan saat ini wilayah Pesisir Tangkas, Gunaksa, dan sekitarnya telah ditetapkan dalam Perda 3/2020 menjadi Kawasan Strategis Provinsi sebagai Kawasan Pusat Kebudayaan Bali.

Lebih lanjut, Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Bali ini menjelaskan untuk mewujudkan Pusat Kebudayaan Bali, melalui Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang, Perumahan dan Kawasan Permukiman Provinsi Bali telah melakukan Penetapan Lokasi Pembangunan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali dengan luas mencapai 334, 62 Ha terdiri dari Pemukiman Desa Tangkas Eksisting sebanyak 11,19 Ha, Penlok Tahap I seluas 110,31 Ha, Penlok Tahap II dengan luas 213, 12 Ha.

“Secara konsep perencanaan ada 3 yaitu Konsep Utama Pembangunan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali dengan merencanakan tempat yang dapat menjadi inventarisasi warisan Kebudayaan masa lalu diintegrasikan dengan kebutuhan pengetahuan dan teknologi masa kini dan masa datang, sehingga nilai-nilai luhur budaya dapat terwarisi secara berkelanjutan,” ujar mantan jebolan ITB ini yang juga telah menerbitkan Perda Nomor 4 Tahun 2020 tentang Penguatan dan Pemajuan Kebudayaan Bali.

Selanjutnya dalam konsep pembangunan terdapat Edukasi, Konservasi, Rekreasi, dan Pembangunan ramah lingkungan yang berkelanjutan dan Pembangunan Terintegrasi berbasis IT.

“Kemudian ada juga Konsep Infrastruktur Terintegrasi dan Ramah Lingkungan, dengan adanya Perhubungan Darat (Jalan, Kereta LRT, & ART, red), Perhubungan Laut (Pelabuhan Gunaksa, Marina, red) dan Pengembangan Infrastruktur yang aman dan ramah lingkungan,” imbuhnya.

Tidak berhenti sampai disana, Wayan Koster selalu berpedoman ajaran Trisakti Bung Karno. Yakni berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi serta berkepribadian di bidang kebudayaan.

Ditegaskan dalam masterplan pembangunan kawasan pusat kebudayaan Bali dengan mengusung konsep Tri Mandala dan Sat Kerthi.

“Terdiri dari Wana Kerthi, Danu Kherti, Atma Kerthi, Jagat Kerthi, Jana Kerthi serta Segara Kerthi,” terang Koster.

Tampak hadir dalam acara Kepala Kejaksaan Tinggi Bali, Bupati Klungkung Nyoman Suwirta, Ketua DPRD Klungkung Anak Agung Gde Anom, Kepala Perangkat Daerah di Pemprov Bali, Para Kelompok Ahli Pembangunan Provinsi Bali, Kepala Kanwil BPN Provinsi Bali, Tim Persiapan Pengadaan Tanah Pembangunan Kawasan Pusat Kebudayaan Bali di Kabupaten Klungkung, Camat Klungkung dan Camat Dawan, hingga Para Perbekel di Desa Tangkas, Desa Jumpai, Desa Gunaksa, Desa Sampalan Klod, dan Perbekel di Desa Gelgel.

“Jadi saya berkeinginan untuk mengangkat martabat kebudayaan Bali, karena dalam sejarah Bali di Klungkung ini adalah tempat masa keemasan Kebudayaan Bali yang saat itu terjadi di Era Kerajaan Gelgel dengan Raja Dalem Waturenggong,” jelas mantan Anggota DPR-RI 3 Periode ini. (*)