Teater Exit Tajuk Jambore Teater 2020 oleh Dewan Kesenian Jawa Timur

Editor : Totok Waluyo | Reportase : Didik Harmadi

Malang, Porosinformatif – Gelaran Jambore Teater Jatim 2020 oleh Dewan Kesenian Jawa Timur bertajuk ‘Teater Exit’ diikuti tiga kelompok Teater yakni Kelompok Bermain Kangkung Berseri dari Malang, Teater Kala dari Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton- Proboliggo, UKM Teater Nanggala dari Universitas Trunojoyo Madura.

Tema ‘Teater Exit’ diangkat Dewan Kesenian Jawa Timur selaku penyelenggara, melihat keberadaan teater hari ini harus dibaca ulang sebagai suatu realitas perubahan.

Teater Exit adalah sebuah usaha menemukan pola kerja menempatkan pintu teater dari kejenuhan dalam aktifitas.

Luhur Kayungga Presidium Dewan Kesenian Jawa Timur mengatakan, keberadaan teater berada dalam arus besar tentang pandemi sebagai sesuatu fenomena, dimana setiap orang terdampak.

“Oleh karena itu Dewan Kesenian Jawa Timur dan teman-teman departemen teater sebenarnya ingin melakukan pembacaan ulang dalam kondisi serba terbatas,” ujarnya.

Menurutnya, bagaimana teater dapat melakukan suatu pergerakan atau geliat. Sehingga dalam pelaksanaan ataupun penyelenggaraan dari pendampingan, agar muncul pembacaan, bagaimana pertunjukan harus meninggalkan gedung pertunjukan konvensional.

“Sehingga bisa lebih luas mengeksplorasi dari satu ruang lebih dekat dan intim dengan kehidupan para kreator, misal dapur, kamar tidur, ruang kelas dll. Dan bersama membaca ulang ketubuhan pada tradisi pandemi,” ungkap Kuhur Kayungga.

Teater Kelompok Bermain Kangkung Berseri menjadi kelompok pertama sebagai pembuka. Mengambil lakon #RuangKelasKosong, dipentaskan di Sekolah Dasar Negeri Klojen Jl. Patimura, Malang, Jum’at (20/11) kemarin dengan menerapkan protokol kesehatan ketat. Hal ini karena keselamatan semua pihak menjadi prioritas.

Agus Fauzi Rhomadhon sang Sutradara mengatakan, gagasan lakon #RuangKelasKosong didasari ruang kelas yang ditinggalkan murid dan beralih ke media digital karena wabah Covid-19.

“Kegelisahan inilah menjadi ide dasar penggunaan kelas menjadi ruang eksplorasi estetik sehingga Teater Kelompok Bermain Kangkung Berseri melihat ruang kelas tidak sekedar sebagai ruang, tetapi mampu menjadi semacam metafor pertunjukan,” terangnya.

Pemilihan pementasan teater menggunakan ruang kelas yang diluar kebiasaan, menurut Agus merupakan upaya penyesuaian dalam merespon dampak situasi dan kondisi pandemi.

“Secara pengalaman puitik hampir semua pemain adalah pendidik, sehingga melihat kelas sebagai ruang yang akrab dan familier memungkinkan eksplorasi dilakukan secara jujur,” imbuhnya.

Disinggung perihal pemakaian topeng dalam pementasannya, Agus mengungkapkan aktivitas masyarakat di tengah pandemi dengan menggunakan masker sebagai kecenderungan bagian dari gaya hidup.

“Penggunaan masker menjadi keren dan hal ini menjadi pilihan pendekatan estetik dalam pementasan,” katanya.

Sementara, Dayat Duro salah satu penonton dari Pamekasan Madura, mengatakan kehadirannya sebagai silahturahmi dengan Kelompok Bermain Kangkung Berseri dan sebagai upaya mengobati kerinduan terhadap dunia teater yang selama ini di tekuninya.

Ia mengapresiasi setelah melihat pementasan teater Kelompok Bermain Kangkung Berseri dari prespektif artistik, penyelenggara jeli memperhitugkan intensitas cahaya.

“Distribusi cahaya senja yang masuk dari luar ruang lewat jendela telah dikalkulasi dengan memperhitungkan waktu pertunjukan yaitu jam 15.30 WIB. Teritorial kota Malang yang biasa berawan, redup bila pentas pada waktu tersebut, cahaya matahari sudah mulai soft, dan menimbulkan efek dramatik dalam pertunjukan,” pungkasnya.(*)