Bea Cukai Ngurah Rai Gagalkan Penyelundupan Narkoba Modus Swallow

Denpasar, Porosinformatif – Bea Cukai Ngurah Rai berhasil menggagalkan upaya penyelundupan narkotika yang dilakukan oleh dua orang WNA asal Thailand. Penindakan dilakukan 13 Mei 2019 di Terminal Kedatangan Internasional Bandara I Gusti Ngurah Rai.

Kepala kantor Bea Cukai Ngurah Rai Himawan Indarjono, mengungkapkan dua orang kebangsaan Thailand dengan inisial PS (29) dan AP (20) tersebut merupakan penumpang pesawat Air Asia FD398 dengan rute Bangkok – Denpasar, telah diamankan terkait dengan kasus upaya penyelundupan narkotika.

“Pada 13 Mei 2019, kami melakukan penindakan terhadap dua orang pria berkewarganegaraan Thailand dengan inisial PS dan AP,” tutur Himawan.

“Setelah melewati pemeriksaan X-ray, petugas kami kemudian melakukan pemeriksaan secara mendalam terhadap barang bawaan milik keduanya. Pemeriksaan diteruskan dengan pemeriksaan badan dan Rontgen di rumah sakit. Berdasarkan hasil rontgen, terdapat indikasi adanya benda mencurigakan di dalam saluran pencernaan PS dan AP,” ujar Husni Syaiful, Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Kanwil Bea Cukai Bali.

Setelah dilakukan upaya pengeluaran, kedapatan benda mencurigakan di dalam saluran pencernaan kedua pelaku adalah sediaan narkotika yang disembunyikan dengan metode Swallow (telan).

“Metode ini tergolong ekstrem, karena selain dapat membahayakan penyelundup, juga sulit untuk dideteksi oleh petugas. Inilah salah satu manfaat pemeriksaan badan yang dilakukan petugas bea cukai,” jelas Untung Basuki, Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Bali.

Hasil dari upaya pengeluaran ditemukan di dalam saluran pencernaan PS, petugas menemukan 49 bungkusan plastik berisi bubuk berwarna putih berjenis Methamphetamine dengan berat total 528,03 gram bruto atau 482,46 gram netto. Sedang dari dalam saluran pencernaan pelaku AP kedapatan 51 bungkus seberat 554,45 gram bruto atau 507,02 gram netto.

“Barang bukti dan kedua tersangka selanjutnya diserah terimakan ke Badan Narkotika Provinsi Bali,” imbuhnya.

Atas perbuatannya, kedua pelaku dijerat dengan pasal 102 huruf (e) j.o Pasal 103 Undang-undang No 17 Tahun 2006 tentang perubahan atas Undang-undang Tahun 1995 tentang Kepabeanan j.o Pasal 113 ayat (2) Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dengan tuntutan pidana mati, pidana seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun dan denda paling banyak Rl10 miliar.