Prodi Teater Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatikta Ajak Penonton Napak Tilas Hari Pahlawan

 

Surabaya, Porosinformatif – Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Perbanas Surabaya juga turut memperingati Hari Pahlawan Nasional di bulan November. Acara tersebut diselenggarakan oleh UKM Band yang berdiri sejak tahun 1991, hal ini dinyatakan langsung oleh Ketua UKM Band bernama Galang Wisan Sadewa.

“Acara ini diselenggarakan setiap bulan November, guna memupuk semangat peduli atas perjuangan para pahlawan terdahulu. Melalui teater lebih bisa menyampaikan kisah dari pada band, karena kita tinggal di Surabaya, maka sudah sepantasnyalah kita turut memperingati dan mengenang hari bersejarah 10 November 1945 tersebut,” tegas Putra daerah Tuban yang masih duduk di semester lima ini.

Aula yang dipadati oleh sejumlah penonton generasi muda tersebut tampak riuh dan bahkan sesekali tertawa, terharu, tertunduk dalam renung, marah, sedih dan senang kadang bercampur aduk malam itu, Sabtu (16/11).

Melihat aksi yang ditampilkan oleh penampil Teater Wilwatikta. Naskah yang ditulis oleh Alvian Bolotlavsky ini, digoreng dan dimasak oleh Nicholas Joshua Siahaan sebagai  sutradara, dengan memadukan berbagai unsur seni tradisi yang ada di Negeri ini, meskipun yang tampak dan terasa, Joshua mengambil spirit tradisi dalam karya pentasnya.

Cerita pementasan berlangsung 3 episode, dimana masing-masing episode akan di Cut (potong) oleh Joshua sebagai sutradara dalam pementasan. Hal ini disengaja untuk menimbulkan alienasi efek ujarnya.

“Memang saya terpengaruh dengan konsep Bertold Brecht dan saya hanya meminjam beberapa teori Brecht saja untuk saya terapkan dalam pementasan. Dan tidak menyangka ternyata penonton bisa menikmati dan tampak bahagia saat menyaksikan pementasan kami,” ujarnya.

Wartawan porosinformatif juga melakukan wawancara terhadap personil yang tampil di dalam pertunjukan ini, salah satunya ialah Rifah yang menjadi koreografer dalam pementasan ini, ketika ditanya apakah ada kesulitan untuk mencipta koreografi saat proses? Dengan tegas ia mengatakan; tidak merasa kesusahan selama segala sesuatunya masih berangkat dari akar dan kebudayaan saya yakni tradisi Jawa Timuran.

“Memang berberapa teman ada yang kesulitan ketika saya menawarkan gerakan sebab dilatar belakangi oleh pengalaman tubuh yang berbeda, karena mereka Mahasiswa dari Manggarai NTT,” ujarnya.

Rifah juga sekaligus menjadi aktor bersama Maria, Theresia, Irma, Bintang, Alvian, Rohman, Umi Zia dan Vero. Aktor yang berasal dari berbagai suku diantaranya ada dari Madura, Manggarai NTT dan Jawa.

Malam ini seakan mengingatkan kembali kepada penonton bahwasanya gambaran kecil pementasan ini menunjukkan begitulah perjuangan yang terjadi di berbagai Negeri, mulai dari Sabang sampai Merauke. Rakyat Indonesia tidak memperdulikan lagi suku, bangsa, ras dan agama. Kepedulian hanya satu, membebaskan diri dari penjajahan yang harus dihapuskan dari muka dunia.

Naskah perjuangan yang di pentaskan oleh Teater Wilwatikta malam ini mengajak penonton untuk merenungi perjungan dalam kebahagiaan dan kesedihan, kemerdekaanpun ditutup dengan instrument music Batak, mator-tor mahita sudena, Horas!!.

Perjuangan harus terus di lanjutkan. Merdeka atau Mati memang sudah bukan zamannya lagi, tetapi Merdeka dari intoleransi, itulah yang terpenting saat ini dan NKRI adalah Harga Mati. (roci)