Tokoh Pantomim Indonesia Jemek Supardi Persembahkan Karya Berjudul “PEDHOT”

Sidoarjo, Porosinformatif – Tokoh Pantomim Indonesia akan membuat sebuah karya berjudul “PEDHOT” pada penghujung tahun 2019.

Jemek Supardi begitu panggilan akrab kesehariannya oleh para seniman di Yogyakarta, sempat berbincang-bincang dengan wartawan Porosinformatif.com menyampaikan gagasannya.

Dimana karya “PEDHOT” ini diangkat dari hasil observasi terhadap lingkungan sekitar, dimana ia merasakan seringnya putus nyambung komunikasi antar manusia.

“Dengan adanya kecanggihan di era 4.0 ini, bahkan mengakibatkan tali silaturahmi tersebut menjadi putus nyambung. Silahturahmi hanya cukup dengan menelphon atau video call saja, padahal kehadiran fisik seseorang sangatlah penting dalam sebuah momen tidak hanya lewat suara dan video call saja,” ujarnya.

Karya Pedhot kali ini juga merupakan keinginan mas Jemek, setelah mendapatkan penghargaan Anugerah Kebudayaan 2019 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI. Beliau ingin menyisihkan sedikit uang dari penghargaan tersebut untuk terus konsisten berkarya, walaupun tentunya dana tersebut tidak cukup memenuhi seluruh produksi pementasan. Sehingga tim produksi juga menggandeng beberapa pihak sebagai sponsorship agar terselenggaranya karya ini.

Kepada wartawan Porosinformatif.com melalui sambungan jarak jauh Feri Ludiyanto S.Sn.,M.Sn yang juga merupakan dosen di Prodi Teater Institut Seni Indonesia Surakarta ini mengatakan, “Persepsi visual yang saya dapatkan dalam pertunjukan pedhot pada malam ini, merupakan sebuah kegelisahan Mas Jemek Supardi akan sebuah kalimat Guyub rukun pada generasi dibawahnya. Pedhot yang dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai terputus/putus, dimana generasi pantomim yang dapat terputus silaturahminya antara para seniman pantomim yang berada di Yogyakarta pada khususnya dan Indonesia pada umumnya,” jelasnya.

Lebih lanjut Feri mengatakan bahwa pertunjukan diawali dengan munculnya para seniman-seniman muda Yogyakarta seperti Asita, Broto, Jamal, Kris dan satu lagi Nouki seniman pantomim asal Jepang yang muncul satu persatu dengan menampilkan semua kemampuan pantomimnya (sebut sebagai unjuk eksistensi).

Setelah melakukan pertunjukan kemampuan pantomim tersebut terjatuh lemas, masuklah sosok perempuan yang dimainkan oleh Kinanti Sekar Rahina dengan gerakan lembut dan membawa payung menyentuh satu-persatu para pemain yang terjatuh hingga mereka terbangun semua dan melakukan gerakan rampak.

Sang Tua ( mas Jemek Supardi ) masuk menghampiri dan menengahi, mengumpulkan dan seolah memberi sebuah petuah atau pembelajaran pada para pemain lainnya.

Karya “PEDHOT” kali ini didukung oleh Dinas Budaya Yogyakarta dan menggandeng beberapa komunitas yang berada di Yogyakarta seperti : Sanggar Seni Sekar Kinanthi, Art for Children (AFC) Pantomim dan UKM Teater Seriboe Djendela kampus II Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

Pimpinan produksi : Ikhsan Kurniawan, Stage Manager : Steven, Show Director : M. Shodiq, penata Artistik : Beni Emprit, Sound Engineer : Alan Daru, Penata Lampu : M.Teguh Abdillah, Publikasi : Ruly kawit, Bagas Atga S, Erfianto W, Dokumentasi : Media Setiaji, G.M. Arda Eglis Kusna, Crew : Rizky, Budi, Agung dan Nano.

Semoga mas Jemek Supardi yang merupakan senior Pantoimer Indonesia, bahkan dibeberapa tulisan disebut sebagai Bapak Pantomim Indonesia dan Maestro Pantomim Indonesia dapat terus berkarya, sebagai penyemangat dan pemicu gairah para seniman Pantomim di Yogyakarta bahkan Indonesia.

Sehingga seni pantomim dapat tersosialisasikan di seluruh rakyat Indonesia dan dapat menjawab kesulitan para guru di sekolah terutama di SMP dimana kelas VIII materi seni teaternya adalah seni Pantomim, namun masih banyak guru Seni Budaya di Indonesia yang belum paham akan Seni Pantomim. (indar)