Direktur PO Dua Kuda JIMIN BUDIYONO, Seniman Lukis Yang Menjadi Kandidiat Doktor Pendidikan Seni UNNES 

Tengaran, Porosinformatif – Wartawan Porosinformatif.com berkesempatan berkunjung ke Sanggar Lukis Boode Desa Tengaran, Kabupaten Semarang, bersama seorang teman bernama Samsul Alam seorang Dosen Seni Rupa Universitas Tadulako Palu dan bertemu seniman lukis pendiri sanggar Lukis Boode yaitu Jimin Budiyono, S.Sn.,M.Sn, pada hari Rabu (04/12).

Sejak 21 November 1987 Sanggar Lukis Boode berdiri dan menjadi pusat pendidikan berkesenian di Desa Tengaran dengan berbagai program pelatihan bagi anak-anak sekitar mulai menggambar, melukis, membatik hingga cara membuat memasarkan hasil produk pelatihan.

“Bukan hal yang gampang merintis sebuah sanggar seni lukis di sebuah desa kecil yang letaknya di Kabupaten,” ungkap pak budi demikian panggilan akrab Jimin Bodiyono oleh para penduduk desa kepada wartawan porosinformatif. 

Pak budi sendiri telah belajar melukis sejak duduk di kelas 2 Sekolah Menengah Pertama, setelah memasuki Sekolah Menengah Atas beliau tidak melanjutkan melukis namun bersama teman-temannya menekuni seni musik.

Perjalanan didunia musik juga cukup membanggakan, beberapa lagu dibuatnya sendiri yang kemudian di nyanyikannya bersama teman-teman berkeliling (ngamen) saat libur sekolah berlangsung.

” Pernah di suatu kesempatan saya dan teman-teman berjalan touring mengamen hingga ke Pulau Dewata Bali, dimana dalam perjalanan kami bertemu dengan seseorang yang menawarkan untuk rekaman,” ujarnya.

Setelah tamat Sekolah Menengah Atas (SMA) beliau bekerja di kantor Desa Tengaran sebagai tenaga administratif. Namun beliau merasa tidak cocok dengan passionnya selama ini.

Akhirnya beliau melanjutkan Kuliah di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta yang saat itu masih Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta, Jurusan Lukis Fakultas Seni Rupa.

Sambil kuliah Pak Budi sudah merintis sanggar lukisnya yang kemudian karya-karyanya mulai diterima pasar dan bisa membantu biaya kuliahnya.

Setelah meraih gelar Sarjana Seni (S,Sn) beliau mengembangkan sanggarnya dan mulai merintis sebuah perusahaan yang bergerak di bidang media pembelajaran seni rupa.

PO Dua Kuda resmi didirikan olehnya dengan mendapatkan surat-surat izin pendirian dari lembaga terkait. PO Dua Kuda berkembang dengan pesat. Adapun produk yang dihasilkan dari perusahaan PO Dua Kuda diantaranya : Batik lukis, pastel kering, cat lukis, batik canting, cat air, acrilyk, pewarna batik ramah lingkungan, cat tembok, cat poster, inovasi pendidikan batik lukis, batik cetak, kaligrafi,  kerajinan logam, spanram hingga kanvas lukis.

Produk Po Dua Kuda sudah dipasarkan hingga ke Provinsi Lampung dan Sulawesi selatan. Hampir seluruh desa saat itu bekerja di PO Dua Kuda baik menjadi pegawai tetap maupun menjadi pegawai harian dan setoran. 

Merasa kurang cukup ilmu yang dimilikinya Pak Budi kemudian melanjutkan studinya di S2 Pasca Sarjana Institut Seni Indonesia Surakarta Prodi Penciptaan Seni, hingga lulus dan mendapatkan gelar Magister Seni (M.Sn) dibidang penciptaan seni Lukis yang ia tekuni dengan sepesialisasi pelukis ekspresionis dan karikatur. 

Banyak bergelut di dunia pendidikan anak dari mulai mengajar anak-anak di Sanggar Lukis Boode miliknya, hingga menjadi narasumber workshop seni rupa untuk guru-guru se-Kabupaten Semarang.

Bahkan pernah menjadi Dosen terbang di Institut Seni Indonesia Surakarta, membuatnya tertarik pada dunia pendidikan bahkan beliau juga tergabung dalam berbagai organisasi kesenian yang berkonsentrasi pada dunia pendidikan seperti : Eduart Yogyakarta, kelompok alim solo dan Klaten, Wasesa Salatiga dan saat ini menjadi Litbang dari Dewan Kesenian Kabupaten Semarang. Banyak pameran dan seminar yang beliau ikuti baik Nasional maupun Internasional. 

Tahun 2016 melihat keaadaan Desa Tengaran yang saat ini telah banyak di kelilingi oleh pabrik, sehingga pemuda-pemudi desa banyak memilih untuk bekerja daripada melanjutkan pendidikan tinggi. Pak Budi tergugah untuk melanjutkan studinya kejenjang S3 (doktoral) setelah mendapatkan arahan dari Prof. Dr. Dharsono, M.Sn guru besar dari Institut Seni Indonesia Surakarta yang juga merupakan pembimbingnya saat studi S2.

Wartawan porosinformatif bertanya, untuk apa Pak Budi studi hingga S3 (doktoral) ? 

“Ilmu itu akan melekat sepanjang hayat, pendidikan akan merubah pola pikir seseorang untuk dapat lebih maju lagi kedepan, dimana pendidikan itu penting untuk kehidupan kita,” kata Bapak dari lima anak.

Semoga niat tulus Pak Budi memajukan pendidikan bagi generasi muda disekitarnya, terutama pendidikan seni dengan membuka kesempatan pendidikan non formal di sanggar lukisnya.

Sesaat lagi direktur PO Dua Kuda ini akan menjadi Doktor Pendidikan Seni dari Universitas Negeri Semarang, semoga segala hal dilancarkan untuk sebuah niat yang luhur. (indar)