Pentas Produksi ke-31 Teater Eska: Pancer ing Penjuru 

Surabaya, Porosinformatif – Teater Eska UIN Sunan Kali Jaga Yogyakarta telah menyuguhkan sebuah pertunjukan teater dengan tajuk Pancer ing Penjuru, disutradarai oleh Rahmat Hidayat. Pentas dalam rangka produksi yang ke-31 ini berlangsung di Gedung Auditorium UIN Sunan Ampel, Surabaya (14/12/2019).

Pancer ing Penjuru mengangkat persoalan tentang kondisi alam yang semakin berada di ambang kehancuran akibat ulah manusia itu sendiri yang kurang menyadari terhadap lingkungan. Salah satunya ialah mengenai pencemaran lingkungan. Sebagaimana bagian dari idiom yang dihadirkan di dalam panggung juga terdapat plastik.

Hal ini sebagaimana yang diungkap oleh Sutradara “Kehadiran plastik bagian dari kritik terhadap situasi yang sedang berlangsung”. Dimana plastik akan memberikan efek ketidakseimbangan alam juga menjadi kebutuhan pokok dalam kesehari-harian.

“Pancer ing Penjuru dengan demikian pada dasarnya merupakan upaya menawarkan sebentuk subyektivitas pancer, yang memungkinkan membangun relasi lebih ekologis, untuk menjawab kegelisahan tentang krisis lingkungan”. Ungkap HR. Nawawi selaku salah satu tim naskah.

Naskah ini berangkat dari konsep mengenai  hubungan manusia dengan alam, mengambil spirit dari sedulur papat limo pancer dalam Kidung Marmati gubahan Sunan Kali Jaga. Di mana pada pengertian sedulur papat tersebut diuraikan antara lain; kakang kawah (Ketuban), adi ari-ari (plasenta), puser (pusar), dan getih (darah). Dari keempat tersebut “merupakan penjaga manusia (pancer) di alam rahim,” sambungnya.

“Metode proses yang dipilih adalah bagaimana memposisikan setiap anggota tim dalam posisi yang sama, berhak urun rembug dalam segala gagasan, ide, dan pengaplikasian proses dari tema besar soal Sedulur Papat,” ucap Rahmat.

Dalam pantauan wartawan porosinformatif.com pada kesempatan pentas ini juga dihadiri perwakilan dari komite teater Dewan Kesenian Jawa Timur, Dewan Kesenian Surabaya, dan Keluarga Besar Teater Eska.

Selain itu, para pekerja seni kampus yang datang dari beberapa kota. Selain dari Surabaya ada dari Gresik, Sidoarjo, Madura, Malang, Jember dan Tulungagung. 

Kehadiran Teater Eska dari Yogya ke Surabaya ini menjadi sangat penting untuk menciptakan gairah dan semangat bersama dalam berkesenian. Bisa saling melihat dan mempelajari seberapa jauh capaian yang bersifat artistik yang telah dikelola oleh kelompok satu sama lain.

Di samping itu yang menjadi harapan pokok “tidak terjebak pada acara, tetapi menciptakan peristiwa” Kata Galuh Tulus saat memberikan sambutan sebagai perwakilan dari komite teater DKJT. (lubet)