Seniman Muda Asal Sampang Madura Menggagas Kegiatan “TANGLOK : Seni Rupa Pertunjukan”

Sampang, Porosinformatif – Salah satu seniman kelahiran 12-11-1995, asal Sampang Madura, bernama Syamsul Arifin saat ini sedang menggagas sebuah kegiatan dengan tajuk “Tanglok: Seni Rupa Pertunjukan”. 

Syamsul sebagai penggagas, untuk melaksanakan kegiatan tersebut tidak sendirian. Kepada wartawan porosinformatif.com, Minggu (22/12/2019) ia menyampaikan “Kegiatan ini juga bekerjasama dengan Cemeti Institut untuk Seni dan Masyarakat serta didukung oleh Prince Claus Fund” 

Dirilis dari laman Facebooknya dengan nama akun Syamsul Pranata II, dijabarkan mengenai gagasan “Tanglok” sebagaimana berikut ini :

“Pada tahun 1990-an, Pelabuhan Tanglok, dikenal sebagai satu-satunya pelabuhan yang berada di Kecamatan Sampang. Peran utamanya adalah sebagai tempat pelelangan ikan, bersandarnya para nelayan, dan arus transportasi Sampang-Mandangin. Wajah Tanglok berubah dari masa lalu ke masa kini.  Perubahan adalah sebuah keniscayaan beserta konsekuensi-konsekuensi yang harus ditanggung baik sebagai kenangan maupun kenestapaan. Potret itulah yang menjadi gasasan utama, yakni pinggiran-pesisiran yang dilihat kembali sebagai ruang sebelum dan sesudah. 

Pelabuhan Tanglok sebagai kawasan pesisiran menjadi pemantik yang menarik untuk dilihat ulang kenyataannya hari ini dan sebelum. Sebagai ruang pesisir, pelabuhan memiliki peranan sangat penting bagi masyarakat pesisir yang tumpuan hidupnya berasal dari laut. Karena itu, pelabuhan perlu diadakan sebagai komoditas dan denyut ekonomi masyarakat setempat. Namun, pelabuhan tidak hanya menjadi tempat komoditas masyarakat nelayan (pencari ikan) saja. Selain itu, pelabuhan memiliki kelonggaran untuk menampung segala macam komoditas, seperti pasir hitam yang datang dari luar ke Pelabuhan Tanglok, yaitu dari Situbondo, Jember, Probolinggo dan Lumajang. Selain itu, Pelabuhan Tanglok juga sebagai ruang transit untuk masyarakat Pulau Mandangin ke kota Sampang seperti disebut di atas.

Perubahan dan laju percepatan pembangunan untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi membuat pinggiran-pesisiran  semakin kompleks sudut pandangnya. Bahkan, Pelabuhan Tanglok sekarang lebih bermetamorfosis sebagai ruang transportasi laut. Pergeseran ini salah satunya membuat Pelabuhan Tanglok sebagai pelabuhan ikan bergeser.

Melihat perkembangan zaman yang begitu pesat, maka gagasan ini hadir untuk mengulik Tanglok sebagai memori kolektif. Untuk itu, gelaran ini  melibatkan beberapa seniman dari generasi yang berbeda, sebelum 90-an dan sesudahnya, dan lintasdisiplin. Dari kerangka gagasan dan strategi seperti itulah kami mencoba untuk melihat dan mempelajari kembali tentang apa yang ‘sesudah’ dan ‘sebelum’ berdasarkan amatan-amatan setiap seniman.”

Tujuan dengan adanya kegiatan ini, Syamsul menuturkan “Ingin mengajak seniman untuk melihat kenyataan hari ini untuk lebih kritis, dan sebagai proses pengembangan praktik kesenian kedepan, khususnya kesenian di sampang”.

Kegiatan ini akan berlangsung selama 3 hari dari 26-28 Desember 2019 di Kampung Nelayan, Ju’lanteng, Tanglok-Sampang Madura. Desain acara sangat beragam :  pameran, pertunjukan, musik dan seniman wicara.

Sebagai pengisi acara juga ada beberapa seniman dan kelompok/komunitas yang sudah terjadwal diantaranya yakni Hidayat Raharja, Umar Fauzi Ballah, Moh. Sulaiman Sanusi, Hendrik R. Sidik, Syamsul Arifin, Toyol Dolanan Nuklir, Rifal Taufani, Deni Noos, Daul Lanceng Ju’lanteng, dan Sanggar Gaharu.

Reportase by : Achmad Lubaidillah