KKN UNESA KREATIF : Olah Sampah Non Organik Menjadi Kreasi Penghias Lingkungan

Transisi masa pandemi ke tatanan era baru, masih membuat sebagian besar masyarakat Indonesia mengalami pressure (tekanan_red) tersendiri. Social distancing hingga phisycal distancing, membuat masyarakat merubah kebiasaan pola hidup sebelumnya.

Surabaya, Porosinformatif – Perubahan ini nampaknya tidak bisa direspon dengan cepat oleh masyarakat, sehingga banyak juga yang mengabaikan protokol kesehatan menganggap Covid-19 tidak ada. Hal ini berdampak dengan makin bertambahnya jumlah orang yang terpapar virus Covid-19.

Seluruh aspek masyarakat mulai memperketat aktivitas sosial. Mulai dari instansi pemerintahan, perkantoran, bahkan pendidikan. Situasi ini juga dialami oleh Univeritas Negeri Surabaya sebagai instansi pendidikan tinggi yang wajib menjalankan aktivitas pembelajaran dan administratif, agar kurikulum juga program Universitas tetap berjalan. Salah satunya Kuliah Kerja Nyata.

Dosen Pembimbing Lapangan Welly Suryandoko, S.Pd., M.Pd menjelaskan terdapat 4 gelombang dalam pelaksanaannya. “Gelombang 4 ini merupakan gelombang terakhir terdiri dari mahasiswa jalur non pendidikan,” ujarnya seraya menegaskan masing-masing gelombang dilaksanakan satu bulan pada tanggal 1 hingga 31 Agustus 2020.

Program masing-masing desa diserahkan pada pelaksana KKN yang terbagi dalam beberapa kabupaten. Salah satunya di Kabupaten Jombang terdapat 2 kelompok besar. Kelompok Jombang 2 dibimbing oleh Dosen Pembimbing Lapangan Welly Suryandoko, S.Pd., M.Pd dan ketua kelompok Muhammad Fahmi Alfarizi dari Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Pendidikan dengan jumlah satu kelompok 28 mahasiswa.

Kemudian dibagi kembali kedalam dua desa. Desa Rejoso Pinggir Kecamatan Tembelang dan Desa Pulosari Kecamatan Bareng Jombang. “Jarak keduanya berjauhan, kurang lebih 40 km jarak tempuh kedua desa ini,” imbuhnya.

Welly Suryandoko menambahkan, program gelombang 4 ini meneruskan gelombang 3 terkait dengan pengolahan sampah non organik. “Walaupun keduanya memiliki karakteristik yang berbeda, Desa Rejoso Pinggir wilayah sungai brantas dan Desa Pulosari wilayah pegunungan berdekatan dengan Wonosalam. Masalah keduanya adalah sampah plastik,” terangnya.

“Program gelombang 4 ini ialah membuat taman mini hijau berbahan dasar dari sampah plastik. Mahasiswa bersama warga berhasil melaksanakan kegiatan dengan baik,” ujar Welly, Dosen yang murah senyum ini kepada Porosinformatif.

Diwaktu yang bersamaan, Yoyok Kepala Desa Rejoso Pinggir menuturkan saat penutupan kegiatan, bahwa mahasiswa telah melakukan kegiatan dengan baik, dimana kelompok ini setiap hari membantu warga maksimal mulai kegiatan posyandu, TPQ, bersih desa dan taman mini.

“Mahasiswa juga melaksanakan penyampaian hasil di depan perangkat dan warga dengan baik. Sebaliknya DPL dan mahasiswa berpesan agar program yang sudah terlaksana dapat diteruskan oleh desa, agar desa semakin indah dan terbebas dari sampah plastik,” katanya.

Meski kegiatan di tengah pandemi dilaksanakan, tampak para mahasiswa menerapkan protokol kesehatan. Seperti mengenakan masker dan menjaga jarak. Sehingga bisa menjadi taulan bagi masyarakat di dua desa ini.

Desa Pulosari sebagai desa wilayah pegunungan membuat mahasiswa tidak merasa risih atau pengap saat mengenakan masker. “Justru dapat mengurangi rasa dingin saat melaksanakan kegiatan. Disisi lain keberhasilan kegiatan juga dirasakan oleh desa,” tutur Gaguh pemilik lahan yang digunakan taman mini dan juga seorang dokter hewan lulusan UGM.

“Kami sangat senang dan bangga dengan kreativitas mahasiswa UNESA membuat lahan menjadi indah dan siap untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata kampung kreatif,” ujarnya.

Editor : Totok Waluyo
Reportase : W. Suryandoko