Ajang Revitalisasi Performance Art dalam Gelaran PAMAFES#11

Editor : Totok Waluyo | Reportase : Didik Harmadi

Malang, Porosinformatif – Ajang revitalisasi sikap para Performancer melalui Performance Art Malang Festival ke-11 bertempat di Dewan Kesenian Malang di Jl. Majapahit No. 3 Klojen, Malang.

Acara yang digelar selama dua hari pada tanggal 5-6 Desember 2020 kemarin, merupakan ajang pertemuan dan gelaran karya para performance artist dari berbagai daerah.

Menampilkan para performer: Adam Gruba, Adi Tiadatara, Alfin Haris, Anto Baret, Abqoiriyin, Bejo Sandy, Dwi Januartanto, Figo Dimas, Galan Arkasa, Illumi, Iwan Wijono, Komsen, Lamijan, Oktavianni Puspitasari, Paulina Paix, Rifki Arkaf, Samarasta, Slamet Gaprak, Soge Ahmad, Mukmin, Syehan Zuleha, Syska La Veggie, Tamara, Tommy Bria, Ulya Ulumiyah, Wiji Utomo, Wira Xweng, Womboon, dan Zumna AK, 528 Hz.

Dapeng Gembiras koordinator PAMAFES#11 mengatakan, gelaran kali ini mengangkat Sirkulasi menjadi tema. Dimana sirkulasi merupakan realitas ruang berupa cerminan diri, angan-angan, dan gagasan kegelisahan yang timbul tenggelam dalam jiwa yang dapat dibentuk dalam wadah.

“Wadah itu sendiri kedudukannya ada pada konteks seseorang bangun dan memaknai,” katanya.

Selanjutnya Dapeng Gembiras menegaskan, sebagai performance art membutuhkan lebih dari sewujud ruang dalam hidup.

“Seperti halnya siklus hidup ada ruang rahim, ruang anak-anak, tua hingga ruang kematian. Sama halnya kehidupan, Performance Art membutuhkan ruang saling terkait dan melingkar, itulah sirkulasi,” terangnya kepada Porosinformatif.com.

Selain menampilkan para performance art, PAMAFES#11 juga diisi kegiatan Art Study, Screning Video, dan Pameran satu dekade PAMAFES.

“Kegiatan Art Study salah satunya sebagai upaya meningkatkan kompetensi dan keilmuan para performer akan lebih berkembang di masa mendatang,” tambahnya.

Sementara Wiji utomo atau biasa dipanggil Wiwit performer dari Surabaya menampilkan Performance art berjudul “Urip Mung Mampir Ngombe”.

Wiwit mengatakan, keikutsertaan dalam event PAMAFES#11 berangkat dari rasa kebersamaan terhadap suatu kesadaran, yang kedua sebagai upaya membangun jaringan dan mengenal teman-teman performancer yang baru atau muda.

“Ketiga sebagai sarana ekspresi hasil pengendapan kontekstual realitas perubahan yang kami respon menjadi sebuah karya,” ujarnya.

Sebagai harapan ke depan, PAMAFES#11 bisa menjadi semacam tonggak suatu progresi dari PAMAFES selanjutnya, tidak berbasis teritorial Indonesia tetapi lebih luas menjadi festival antar negara kepulauan bahkan bertaraf internasional.(*)