Cara Bangun Bisnis Kuliner ala Founder Warunk Upnormal

Editor : Totok Waluyo | Reportase : Totok Waluyo

Denpasar, Porosinformatif – Siapa tidak mengenal Warunk Upnormal ? Warung yang menyediakan menu Indomie kekinian. Disini makan Indomie berasa gaul dan keren. Dan tempatnya yang cozy itu, kadang membuat betah berlama-lama buat Nongki.

Baluran ‘taste’ Indomie yang khas di padukan dengan keju sampai kikil, dari mulai manis sampai pedas. Disini juga tersedia menu roti bakar, nasi wagyu, pisang bakar, alpukat kerok, dessert maniz, susu dan kopi yang nikmat di mulut ramah di kantong!

Kali ini Porosinformatif akan ulas ‘Cara Bangun Bisnis Kuliner ala Founder Warunk Upnormal’.

“Uang bukanlah segalanya, namun uang bisa menentukan segalanya”, ungkapan yang menjadikan uang sebagai alat untuk segala hal. Seperti halnya dalam dunia usaha/bisnis, banyak yang menganggap jumlah uang merupakan modal dasar membangun bisnis.

1000 % tidak salah. Namun apa iya sih, jika bisnis bisa diawali dengan “sedikit” modal ?

Nah ini jawabannya, bisnis memang bisa diawali dengan sedikit modal, namun tetap membutuhkan support berupa do’a. Lah apa hubungannya bisnis dan do’a ya ?

Tahun 2013 Founder Warunk Upnormal yang sekarang sudah mencapai puluhan cabang, mengawali bisnisnya dengan meminta do’a. Ya 1000 do’a. Dengan memberikan nasi goreng yang saat ini bernama Nasi Goreng Mafia, dengan menuliskan pengumuman di depan warungnya “GRATIS 1000 PORSI NASI GORENG, CUKUP DIBAYAR DENGAN DOA” di hari pertama pembukaannya.

Bukannya malah rugi, di tahun 2020 ini warungnya malah berkembang pesat dan sudah mempunyai cabang dimana-mana.

Nah usut punya usut, dari hasil penelitian Porosinformatif, Founder Warunk Upnormal sekarang juga menjadi Entrepreneur di bidang usaha kuliner. Dan menghasilkan para pengusaha millenial termasuk di masa pandemi.

Nah ini salah satu resep bacaan yang dibagikan Founder Warunk Upnormal untuk dijadikan pedoman dalam memulai bisnis kuliner :

https://kursusfoodizz.id/aff/337/1694/

Silahkan dibaca dan dicoba ya.

“Jer Basuki Mawa Bea”
(Setiap keberhasilan memerlukan pengorbanan).(*)