Representasikan Kegairahan Kota Malang, DKM Luncurkan Buku Antologi Puisi

Editor : Totok Waluyo | Reportase : Didik Harmadi

Malang, Porosinformatif – Representasikan gairah kota Malang dalam geliat sastra, Dewan Kesenian Malang luncurkan buku Antologi Puisi karya Penyair Putra Daerah Malang di Ruang Pendopo Hazim Amir Jl. Majapahit 3 Klojen, Malang pada hari Rabu (30/12).

Buku yang berjudul Sajak Dwiwangga Dunia Tak Lagi Dingin merupakan wujud kerja kreatif dari 37 penyair Malang Raya dalam bentuk kumpulan puisi di penghujung tahun 2020.

Abdul Mukhid Ketua Badan Pengurus Sastra DKM sekaligus penyusun mengatakan, peluncuran buku ini bertujuan menjadi wadah para penyair dari berbagai latar belakang sosial dan generasi di Malang Raya.

Menurutnya dengan membaca perkembangan sastra di Malang yang dinamis, meskipun berada dalam pusaran Covid-19.

“Peluncuran buku ini memang untuk sarana komunikasi dan bersilahturahmi antara penyair dengan penyair, penyair dengan masyarakat, dan penyair dengan pemangku kebijakan,” ujarnya.

Ditambahkan Mukhid, selain sebagai sarana, buku Antologi Puisi ini juga sebagai dokumentasi sastra agar ke depan para penyair tetap giat dan produktif untuk berkarya.

Sementara Tengsoe Tjahjono selaku kurator menerangkan, proses kurasi bermula dari kegiatan Badan Pengurus Harian Sastra DKM yang mengumpulkan puisi dan terdapat beberapa karangan dalam bentuk ekspresi antara lain sangat setengah matang dan belum matang.

“Varisasi ini tercipta karena adanya pengalaman berbeda para penyair. Kedua, puisi selalu berangkat dari fakta, tetapi fakta telah diolah menjadi fakta-fakta baru, sehingga muncul variasi adanya penyair yang hanya menuliskan fakta dan penulis tanpa fakta sehingga puisinya tidak membumi,” katanya seraya menjelaskan lebih lanjut, bahwa varisasi-variasi tersebut muncul dalam proses kurasi, sehingga terpilih beberapa puisi yang pantas masuk dalam antologi.

Deni Mizhar penyair kelahiran Lamongan 1983, salah satu penulis puisi dalam buku Antologi Puisi Penyair Malang Raya Sajak Dwiwangga Dunia Tak Lagi Dingin turut andil dengan menuliskan 3 puisi yaitu Pada Kematian di Kantor Wali Kota, Di Meja Kopi serta November di Kota Ini.

Dirinya menegaskan, karya puisi merupakan ruang perenungan dan realitas yang di dalamnya ada berbagai refleksi dalam kehidupan.

‚ÄúSeperti puisi saya berjudul November Di Kota Ini, didasari kegelisahan saya membaca fenomena kota dalam ruang urban yang dipenuhi berbagai persoalan dan gejolak. Salah satunya orientasi pembangunan kota yang lebih berpihak pada prinsip estetika dibanding ruang ekologi,” terangnya kepada wartawan Porosinformatif.

Antologi puisi Sajak Dwiwangga Dunia Tak Lagi Dingin bagi Deni tidak sekedar buku yang berisi kumpulan puisi karya para penyair.

“Tetapi juga sebagai dokumen tentang zaman yang terkemas dalam bentuk puisi dan sekaligus menjadikan puisi sebagai media kritis terhadap lingkungan masyarakat urban,” pungkasnya.(*)