UNESA dan Pondok Al Falah Ploso Jalin Kerja Sama: Pelatihan Seni Hibrid Sang Blawong Kembangkan Kreativitas Santri

Kediri, Porosinformatif| Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) sukses melaksanakan kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) bertajuk “Pelatihan Manajemen dan Produksi Hibrid Pertunjukan dan Film ‘Sang Blawong’ untuk mengembangkan kreativitas santri di Pondok Pesantren Al Falah Ploso Mojo Kediri”.

Kegiatan yang berlangsung pada 11–13 Juli 2025 ini mengusung semangat kolaborasi seni dan dakwah Islami berbasis pesantren.

Acara puncak digelar pada Sabtu, 12 Juli 2025 di ruang pertemuan Pondok Pesantren Al Falah Ploso, ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara UNESA dan Pondok Pesantren Al Falah Ploso.

MoU ini ditandatangani langsung oleh Dekan FBS UNESA, Syafi’ul Anam, Ph.D., dan pengasuh pondok, KH. Fahim Royani, sebagai komitmen bersama dalam pengembangan seni berbasis religius dan budaya lokal.

Dalam sambutannya, Syafi’ul Anam menyampaikan bahwa pelatihan ini bukan sekadar transfer ilmu, melainkan upaya pemberdayaan santri sebagai agen perubahan sosial melalui medium seni.

“Kami percaya, pondok pesantren adalah sumber daya budaya dan spiritual yang luar biasa. Melalui pendekatan seni hibrid yang menggabungkan pertunjukan dan film, santri akan mampu menyampaikan pesan dakwah dengan cara yang lebih modern dan kreatif,” ungkapnya.

KH. Fahim Royani, selaku pengasuh pondok turut mengapresiasi inisiatif UNESA. Ia menegaskan bahwa pondok sangat mendukung inovasi yang tetap berakar pada nilai-nilai religius.

“Pelatihan ini menjadi awal yang baik untuk melahirkan generasi santri kreatif yang tidak hanya paham agama, tetapi juga memiliki keterampilan teknis di bidang seni dan media,” ujarnya.

Program pelatihan PKM ini mencakup berbagai aspek produksi seni, mulai dari manajemen keproduksian, penulisan naskah, pengolahan vokal (lalaran), sinematografi, hingga pelaksanaan pertunjukan hibrid. Seluruh rangkaian pelatihan menerapkan metode berbasis pengalaman (experiential learning), di mana para santri dilibatkan langsung dalam proses kreatif sebagai aktor, kru teknis, hingga tim produksi.

Salah satu hasil utama dari program ini adalah karya film pendek berjudul “Sang Blawong”, yang mengangkat kisah perjuangan pendiri pondok, KH. Djazuli Utsman, serta simbolisasi Blawong sebagai penjaga keluhuran tradisi pesantren.

Film dan pertunjukan hibrid yang disusun secara kolaboratif ini berhasil memperlihatkan integrasi nilai Islami dengan medium seni kontemporer.

Selain film, para santri juga berhasil menyusun naskah, merancang tata artistik, mengembangkan komposisi lalaran Islami versi UNESA, serta melaksanakan pertunjukan dramatik yang disaksikan oleh lebih dari seratus peserta dan undangan.

Sebagai penutup, kegiatan didokumentasikan dalam bentuk video, foto, serta laporan tertulis dan artikel ilmiah yang direncanakan akan dipublikasikan di jurnal PKM nasional. Dokumentasi ini sekaligus menjadi alat ukur keberhasilan kegiatan dan dasar untuk pengembangan program berkelanjutan.***