Upaya Kampung Lali Gadget Kenalkan Permainan Tradisional kepada Generasi Millenial

Porosinformatif.com| Teknologi sekarang ini terus mengalami perkembangan yang sangat pesat. Hal ini dibuktikan dengan adanya perangkat komunikasi modern seperti smartphone atau gadget.

Dari keberadaanya, tentunya ada kelebihan dan kekurangannya. Kelebihannya, mempermudah komunikasi dan interaksi sosial, mempermudah mendapatkan informasi.

Sedangkan kekurangannya justru malah sebaliknya, yaitu: penyebaran berita bohong semakin masif, tidak ada kontak fisik, pasifnya hubungan sosial antar sesama.

Oleh karena hal inilah, Achmad Irfandi, putra daerah asal Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo mendirikan dan menggerakkan program Kampung Lali Gadget (KLG) sejak 1 April 2018.

Pantas saja dirinya mendapatkan penghargaan bergengsi, salah satunya Apresiasi 12th Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards 2021 bidang pendidikan.

Pada awal proyek tersebut dilaksanakan pada tahun 2018, pemuda lulusan S1 dan S2 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Negeri Surabaya tersebut meminjam tanah milik perangkat desa yang berukuran 45 x 50 m.

Selain berencana mengadakan proyek untuk bermain dan belajar bersama, ia juga memberdayakan masyarakat setempat untuk membuat permainan tradisional yang nantinya dijual sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Sejak awal pelaksanaannya, proyek tersebut sudah banyak diminati oleh masyarakat. Pada agenda pertama, terdapat 475 anak dari Sidoarjo dan Surabaya yang turut hadir untuk bermain bersama di KLG. Melihat respon yang cukup bagus, agenda tersebut terus berlanjut hingga pekan-pekan berikutnya setiap hari minggu.

Pengunjung yang hadir pun banyak mulai dari SD, SMP, SMA, hingga mahasiswa dan umum. Tak hanya dari Sidoarjo dan Surabaya, pengunjung yang hadir pun juga meluas hingga dari Gresik dan Malang. Bahkan, sempat ada mahasiswa dari Singapura yang pernah hadir di KLG untuk belajar memainkan permainan tradisional.

Selain dapat membuat seseorang vakum dari gadget walaupun sesaat, KLG juga memiliki banyak manfaat seperti melestarikan permainan tradisional dan meningkatkan perekonomian masyarakat setempat. 

Sekilas Kampung Lali Gadget (KLG) Sidoarjo

Achmad Irfandi. Sumber foto dari news.republika.co.id

Di era perkembangan teknologi, hampir semua aktivitas manusia bergantung pada gadget, tidak terkecuali anak-anak. Menangkap fenomena yang tidak berimbang antara perkembangan teknologi dan tumbuh kembang anak, Achmad Irfandi pemuda asal Wonoayu Sidoarjo mendirikan Yayasan Kampung Lali Gadget.

Tujuannya untuk melestarikan ragam permainan tradisional anak supaya tidak punah. Irfan mendirikan Yayasan Kampung Lali Gadget (KLG) di depan rumahnya pada Agustus 2018.

Yayasan KLG, di wilayah Pagerngumbuk, Wonoayu, Sidoarjo itu dipenuhi beragam alat permainan tradisional yang lekat sekali dengan anak-anak. Kata Irfan dilansir dari suarasurabaya.net, beragam permainan tradisional yang dipajang itu sebagai penyeimbang permainan moderen (gadget).

“Saya ingin lebih memberi kesempatan anak-anak bermain dan punya pilihan permainan. Mereka kecanduan main game itu karena tidak punya pengetahuan soal permainan, tidak ada yang ngajak, dan kurangnya pilihan permainan,” imbuhnya.

Di Kampung Lali Gadget, Irfandi dan teman-temannya berhasil membuktikan bahwa anak-anak sekarang pun senang dengan permainan tradisional.

Mulai egrang, mainan kayu, biting, klompen tali, klompen panjang, gangsing, yoyo, dan berbagai permainan tradisional lainnya.

Di sana berbagai perlengkapan dan alat bermain sudah lengkap. Anak-anak yang berkunjung pun dengan mudah bisa ikut bermain.

Permainan di sawah, main lumpur, main di kebun, dan sebagainya.

Ditambah lagi ada sejumlah pemandu yang selalu siap membimbing anak-anak yang bermain.

Seiring perjalanan waktu, KLG pun semakin berkembang. Berbagai program permainan juga semakin tertata apik di sana.

Program dan even yang digelar di sana pun semakin banyak diminati.

Termasuk oleh lembaga-lembaga pendidikan dan berbagai lembaga lain dari berbagai wilayah.

Irfandi mengakui perkembangan KLG di luar ekspektasinya. Semakin ke sini semakin banyak anak-anak yang berminat menghabiskan akhir pekan di kampung lali gadget.

Apalagi sampai ada sejumlah pejabat dan artis yang datang ke sana, sama sekali tidak pernah diduga sebelumnya.***