UNESA Gelar Pelatihan Penerapan Deep Learning dalam Pembelajaran Seni Budaya di Kota Blitar

Blitar, Porosinformatif| Program Studi S3 Pendidikan Seni, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Surabaya (UNESA), bekerja sama dengan Dinas Pendidikan dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya Kota Blitar mengadakan pelatihan bertajuk “Penerapan Pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran Seni Budaya di Sekolah”.

Kegiatan ini merupakan bagian dari pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan meningkatkan kualitas pembelajaran seni budaya melalui pendekatan modern dan bermakna.

Pelatihan yang berlangsung pada 16-18 Juni 2025 di Aula UPT SMPN 6 Kota Blitar ini diikuti para guru seni budaya tingkat SMP se-Kota Blitar.

Kegiatan ini menghadirkan narasumber terkemuka, antara lain Prof. Dr. Djuli Djatiprambudi, M.Sn., Prof. Dr. Warih Handayaningrum, M.Pd., dan Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si.

Para peserta mendapatkan pemaparan mengenai konsep dasar deep learning, implementasi desain pembelajaran seni budaya berbasis deep learning, serta strategi praktis penerapannya di sekolah.

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar, Dindin Alinurdin, AP., didampingi Pembina MGMP Seni Budaya Kota Blitar, Titik Ristina, S.Pd., M.Pd., serta Ketua Panitia dari Program Studi S3 Pendidikan Seni UNESA, Dr. Indar Sabri, S.Sn., M.Pd.

Pembukaan juga diwarnai dengan penyerahan cinderamata sebagai bentuk apresiasi atas kerja sama yang telah terjalin.

Dalam sambutannya, Dr. Indar Sabri menyampaikan bahwa pendidikan seni budaya sering kali kurang mendapat prioritas dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah.

Padahal, seni budaya memiliki peran strategis dalam membentuk karakter, kreativitas, dan daya pikir kritis siswa. Melalui pelatihan ini, diharapkan para guru dapat meningkatkan pemahaman tentang model pembelajaran holistik dan mendalam, serta mampu mengimplementasikan pendekatan deep learning dalam proses belajar mengajar.

Sesi inti pelatihan diisi dengan pemaparan materi dari para narasumber, baik secara langsung maupun daring.

Prof. Dr. Djuli Djatiprambudi, M.Sn., membahas konsep dasar deep learning dalam pengembangan pendidikan seni budaya di sekolah.

Prof. Dr. Warih Handayaningrum, M.Pd., mengupas implementasi desain pembelajaran seni budaya dengan pendekatan deep learning.

Sementara, Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si., memberikan penjelasan mengenai desain pembelajaran seni budaya berbasis deep learning khusus untuk guru SMP di Kota Blitar.

Sebagai penutup, peserta diajak untuk merefleksikan hasil pelatihan dan merancang rencana tindak lanjut penerapan pembelajaran seni budaya berbasis deep learning di masing-masing sekolah.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang peningkatan kapasitas guru seni budaya, tetapi juga memperkuat sinergi antara perguruan tinggi, lembaga pendidikan, dan pemerintah daerah dalam menciptakan sistem pendidikan seni budaya yang relevan dengan tantangan abad ke-21.

Melalui inovasi pembelajaran berbasis deep learning, diharapkan mutu pendidikan seni budaya di Kota Blitar dapat terus meningkat. Sebab, seni bukan hanya soal berkarya, tetapi juga membentuk jiwa dan karakter bangsa.***