Mataram, Porosinformatif| Tahun 2022 merupakan tahun pemulihan perekonomian di Provinsi Bali seiring melandanya pandemi Covid-19 di tiga tahun terakhir ini. Karena itulah, pandemi telah menyebabkan scarring effect (luka mendalam_red) khususnya pada sektor pariwisata Bali.
Hal ini diungkap Kepala Kantor Perwakilan wilayah Bank Indonesia (Kpw BI) Bali Trisno Nugroho dalam acara media gathering di Mataram yang dilaksanakan dari tanggal 30 September 2022 hingga 1 Oktober 2022.
Lebih lanjut Trisno menyebut scarring effect ini tidak semerta-merta timbul, menurutnya ada beberapa faktor yang mendasarinya, diantaranya, menurunnya jumlah tenaga kerja perhotelan, terjadinya kerusakan pada infrastruktur, demand pariwisata yang belum pulih sepenuhnya, serta sulitnya memperoleh pembiayaan perbankan.
“Jadi meskipun pemulihan ekonomi terus berlanjut, keempat faktor utama scarring effect ini tidak bisa dihindari. Untuk itulah, diperlukan dukungan investasi atau pembiayaan guna mendorong produktivitas di sektor pariwisata,” terang Trisno, Jumat (30/9/2022).
“Belum lagi adanya isu yang juga bisa mempertegas scarring effect tersebut, seperti adanya inflasi global yang dialami di beberapa negara, kenaikan harga bahan bakar pesawat dunia yang menyebabkan naiknya tarif pesawat mancanegara, serta lambatnya perekonomian dunia,” imbuhnya.
Meskipun begitu, berdasarkan data yang dirilis indiaglobalbusiness.com menyebut, jumlah kunjungan wisatawan akan meningkat. Sejalan dengan bertambahnya kedatangan penumpang, baik dari wisatawan lokal maupun mancanegara.
“TPK (Tingkat Penghunian Kamar) di Bali juga sudah menunjukkan peningkatan. Meski masih rendah dibandingkan dengan Jakarta dan Yogyakarta,” ujar Trisno.
Dirinya menyebut, peningkatan TPK di Bali yang paling tinggi masih terpusat di wilayah Kuta, Seminyak, dan Nusa Dua. Namun demikian, TPK tersebut baru dari 75% kamar yang sudah beroperasi.
Sumber PT Angkasa Pura I menunjukkan, rata-rata harian jumlah kedatangan penumpang internasional masih mengalami peningkatan seiring dengan pelanggaran persyaratan pelaku perjalanan luar negeri. “Selama Januari hingga September (sampai dengan tanggal 23 September), jumlah kedatangan penumpang internasional mencapai 1,19 juta orang,” terang Trisno.
Padahal, kondisi ini, menurut data yang dirilis PT angkasa Pura I, masih ada 12 maskapai luar negeri yang belum kembali mengoperasikan direct flight ke Bali.
“Jadi kami (Bank Indonesia) meyakini dari proyeksi wisman pada tahun 2022 yang mencapai 1,43 juta orang akan terealisasi nantinya,” tandas Trisno.(*/01)



















