Penguatan Kewenangan Nelayan Wanasari Tuban Melalui Hibah Pengabdian Pemberdayaan Berbasis Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi

Penguatan Kewenangan Kelompok Nelayan Wanasari Tuban atas Wilayah Pesisir dan Pantai Berdasarkan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2011 Tentang Kawasan Suaka Alam dan Kawasan Pelestarian Alam

Badung, Porosinformatif| Tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Dwijendra melaksanakan program pemberdayaan berbasis masyarakat di Kelompok Nelayan Wanasari, Tuban, Badung.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kewenangan nelayan atas wilayah pesisir dan pantai sekaligus mendorong pengembangan ekowisata mangrove sebagai penopang ekonomi berkelanjutan.

Dalam pelaksanaannya, tim memberikan penyuluhan hukum terkait kewenangan nelayan tradisional, pelatihan budidaya mangrove, hingga pendampingan pemasaran produk turunan mangrove seperti jus dan lulur.

Adapun permasalahan mitra ada dua, seperti dari aspek pemasaran dan aspek sosial kemasyarakatan.

Pada aspek pemasaran, solusi yang ditawarkan dan disepakati bersama-sama petani mitra promosi pemasaran produk pengelolaaan usaha yang mendukung pengembangan ekowisata pada Kelompok Nelayan Wanasari, Tuban, seperti penentuan harga, kemasan dan peningkatan nilai tambah produk mangrove.

Program ini dipimpin oleh Ni Putu Yunika Sulistyawati, S.H., M.Kn.; Dr. Anak Agung Sagung N Indradewi, S.H., M.H.; I Wayan Partama Putra, S.H., M.H.

Dalam hal Penyuluhan dan pelatihan aspek pemasaran Hibah Pengabdian Pemberdayaan Berbasis Masyarakat didukung oleh dosen lain: Made Mika Mega Astuthi, S.P., M.P. dari Fakultas Pertanian Prodi Agroteknologi, Dr. Ni Made Liana Dewi, S.H., M.H., Dr.Ida Bagus Bayu Brahmantya, S.H., M.H., Sang Ayu Made Ari Kumawardhani, S.H., M.H., Dr Ni Made Trisna Dewi, S.H., I Komang Agung Sri Brahmanda, S.H., M.Kn.

Di mana dukungan pendanaan diperoleh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Selain itu, tim juga menyerahkan 350 bibit mangrove untuk membantu pemulihan hutan bakau Wanasari yang sempat rusak akibat banjir.

Menurut tim pengabdian, ekowisata mangrove Wanasari berpotensi menjadi ikon wisata edukatif di Kuta.

Dengan luas sekitar 10 hektar, kawasan ini tidak hanya menjadi habitat alami bakau, tetapi juga dikembangkan sebagai lokasi wisata berbasis konservasi dan budidaya kepiting bakau.

“Harapannya, melalui kegiatan ini, nelayan Wanasari tidak hanya memiliki kekuatan hukum dalam mengelola wilayahnya, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan melalui produk olahan mangrove dan ekowisata yang berdaya saing,” ujar Ni Putu Yunika Sulistyawati.

Manfaat yang didapat bagi mitra adalah untuk meningkatkan daya saing pemasaran yang dihasilkan guna peningkatan pendapatan kelompok nelayan Wanasari melalui pemasaran produk-produknya bagi para pengunjung ekowisata selain dipasarkan di luar kawasan ekowisata seperti jus dan lulur mangrove.

Sedang solusi pada aspek sosial kemasyarakatan yaitu penguatan kewenangan kelompok nelayan Wanasari Tuban atas wilayah pesisir dan pantai.

Hal ini perlu edukasi pelestarian lingkungan sebagai penerapan mata kuliah Hukum Lingkungan di masyarakat khususnya pada Kelompok Nelayan Wanasari-Tuban.

Target luaran permasalahan mitra tentang Kelompok Nelayan Wanasari tidak memiliki kewenangan untuk memanfaatkan wilayah pesisir dengan baik dengan bantuan pembuatan awig-awig tentang penguatan kewenangan kelompok nelayan wanasari.

Dalam aspek sosial kemasyarakatan yaitu penguatan kewenangan kelompok nelayan Wanasari Tuban atas wilayah pesisir dan pantai.

Progam pembuatan awig-awig dipimpin oleh Ketua Pelaksana Dr. Anak Agung Sagung N Indradewi, S.H., M.H.; Ni Putu Yunika Sulistyawati, S.H., M.Kn, I Wayan Partama Putra, S.H., M.H. didukung oleh dosen lain seperti Dr I Made Wahyu Chandra Satriana, S.H., M.H, A. A. Mas Adi Trinaya Dewi, S.H., M.H., Dr.Agus Surya Manika, S.Ikom, M.H., Anak Agung Linda Cantika, S.H., M.H. dan Ni Nengah Agustin Citrawati, S.H., M.H. dukungan pendanaan diperoleh dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Luaran program ini tidak hanya berupa kegiatan lapangan, tetapi juga artikel ilmiah pada jurnal Internasional terindeks SINTA 4, publikasi di media massa elektronik, karya audio visual, serta poster edukatif.

Semua itu menjadi bagian dari komitmen Universitas Dwijendra dalam menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.

Dengan adanya sinergi antara perguruan tinggi, masyarakat adat, dan pemerintah, diharapkan Kelompok Nelayan Wanasari dapat terus berkembang sebagai contoh pemberdayaan masyarakat pesisir berbasis hukum, budaya, dan ekologi di Bali.***