Editor : Totok Waluyo | Reportase : Buang Supeno
Malang, Porosinformatif – Berawal dari rasa keprihatinan dan kepedulian akan situasi dan kondisi yang semakin terpuruk di kalangan petani, Ketua Lembaga Kajian dan Riset Bamboo Spirit Nusantara (BSN) Indonesia Guntur Bisowarno, S.Si., Apt. mengembangkan pertanian berbasis lingkungan di Desa Kertosari Kecamatan Purwosari Kabupaten Pasuruan.

Bersama temannya Khairudin Lubis, Guntur Bisowarno yang alumnus Universitas Airlangga Surabaya Fakultas Farmasi tahun 1996 ini, membuat pupuk organik yang memiliki karakteristik, berkualitas dan tidak merusak struktur tanah. Disamping itu mudah pembuatannya, menguntungkan dan ekonomis.
“Bagaimana mengubah mindset petani untuk tidak bergantung pada pupuk kimia, sekarang ini,” ujarnya.
Dengan bahan baku yang melimpah dan tersedia, murah dan mudah didapatkan seperti limbah kotoran sapi, unggas dan sebagainya, “Kenapa tidak dimanfaatkan sebagai bahan pupuk organik?,” kata Guntur bersemangat.
Program kembali ke alam untuk pemberdayaan para petani, dilakukan Guntur dan Ucok (sapaan keseharian Khairudin) merupakan wujud perhatian terhadap nasib petani yang selalu terpinggirkan.
“Isu kenaikan harga pupuk hampir selalu menghantui kehidupan para petani. Di sisi lain, hasil pertanian belumlah cukup untuk mengimbangi kenaikan harga pupuk yang semakin hari semakin tinggi dan tidak terkejar oleh kemampuan petani,” tegas Guntur di kediamannya, Kamis (27/5/2021).
Pihaknya juga mengatakan, kenaikan harga pupuk yang terus melambung serta dosis penggunaan pupuk anorganik (kimia) semakin besar dalam setiap proses produksi akan membebani petani dalam mengeluarkan biaya produksi.
“Oleh karenanya mas, kami carikan alternatif penggunaan pupuk alami yang sehat dan efektif,” tandasnya.
Dirinya juga tidak menampik, penggunaan pupuk anorganik (kimia) yang terus menerus tanpa diimbangi penggunaan pupuk organik akan merusak sifat fisik dan kimia tanah termasuk rusaknya kehidupan mikroorganisme dalam tanah.
Upaya pengadaan pupuk organik berkualitas dengan teknologi sederhana dan biaya yang murah inilah, menurut Guntur dkk mutlak diperlukan guna kelangsungan proses produksi petani.
Guntur menyebutkan program pemberdayaan petani di Desa Kertosari ini sudah berjalan 3 bulan dengan berbagai jenis tanaman seperti Mangga, Jagung, Jeruk Nipis, Brambang (Bawang Merah), Padi dan Pisang. Dengan pola sistem Tumpangsari.
“Yang sudah berproduksi yakni tanaman Brambang (Bawang Merah),” jelasnya.
Berdasarkan hasil percobaan penggunaan Pupuk Organik binaan BSN Indonesia ini mampu meningkatkan hasil panen.
“Perhektarnya bisa 10-15 ton. Selama ini dengan menggunakan pupuk kimia hanya menghasilkan 4 ton saja,” urainya.
Selain menanam buah-buahan, petani juga diajari menanam tanaman herbal (empon-empon) yang memiliki nilai ekonomis tinggi di era pandemi ini, seperti Jahe, Kencur, Kunir dan sebagainya.
Apalagi Guntur juga Ketua Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia (ASJI), yang akan memfasilitasi hasil panen petani.
“Sebagai Ketua Apoteker Saintifikasi Jamu Indonesia, saya mempunyai kewajiban untuk memberi peluang petani terhadap tanaman herbal yang mempunyai nilai ekonomis tinggi, sehingga tidak menggantungkan hasil pertanian semata,” tutupnya.(*)

















