Di balik senyum pantomime, lahir gerakan solidaritas yang menggerakkan kampus dan menyentuh hati bangsa.
Surabaya, Porosinformatif| Di tengah hiruk-pikuk kampus yang biasanya dipenuhi diskusi akademik dan latihan seni, sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memilih diam bukan karena tak punya suara, tapi karena ingin berbicara lewat aksi nyata.
Melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Pantomime Education Center (PEC), mereka menggelar aksi kemanusiaan untuk membantu korban erupsi Gunung Semeru yang melanda Kabupaten Lumajang dan Malang pekan lalu.
Dengan mengusung semboyan “Mereka Kehilangan Segalanya, Kami Cukup Memberi Sedikit”, mahasiswa PEC turun ke area publik Kampus 2 Unesa di Lidah Wetan, Surabaya, pada Jumat pagi (28/11). Mereka berkeliling kantin, Taman Merdeka Belajar, dan titik strategis lainnya, mengajak seluruh civitas akademika berbagi kebaikan di hari yang dikenal sebagai “Jumat Berkah”.
Yang membuat aksi ini istimewa adalah kehadiran M. Nizar Abdillah, mahasiswa berprestasi penyandang disabilitas tuna rungu yang diterima di Unesa melalui jalur prestasi tanpa tes. Nizar, yang dikenal sebagai seniman pantomime berbakat, menjadi delegasi PEC untuk menyalurkan bantuan langsung ke wilayah terdampak di perbatasan Lumajang–Malang, hari Minggu, tanggal 30 November 2025.
“Kami percaya, seni bukan hanya soal estetika. Ini juga soal empati,” ujar Dr. Indar Sabri, S.Sn., M.Pd., pembina UKM PEC. “Mahasiswa calon pemimpin bangsa harus dibentuk bukan hanya oleh ilmu, tetapi juga oleh rasa. Empati adalah fondasi kepemimpinan yang humanis.”
Donasi yang terkumpul disalurkan melalui dua mitra strategis: Rumah Merdeka Indonesia dan Rumah Pantomime Nusantara, yang selama ini aktif dalam pendampingan korban bencana dan penguatan komunitas seni inklusif.
Aksi ini tidak hanya mengumpulkan bantuan material, tetapi juga menanamkan kesadaran kolektif bahwa kampus adalah laboratorium empati tempat ilmu dan kemanusiaan tumbuh beriringan. Di tengah duka akibat bencana, langkah kecil mahasiswa PEC membuktikan bahwa memberi, sekecil apa pun, adalah bentuk perlawanan paling manusiawi terhadap keputusasaan.***



















