UNESA Hadirkan Pelatihan Pantomim Inklusif, Buka Ruang Kreativitas Anak Tunarungu di Era Digital

Surabaya, Porosinformatif| Universitas Negeri Surabaya (UNESA) melalui Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) kembali menunjukkan komitmennya dalam membangun pendidikan yang inklusif.

Melalui program Pelatihan Pantomim sebagai Media Kreativitas dan Ekspresi Inklusif di Era Digital, kampus ini mengajak anak-anak tunarungu untuk menemukan ruang baru dalam berekspresi, berkomunikasi, dan berdaya melalui seni pertunjukan.

Pelatihan ini berlangsung dalam enam sesi intensif dengan total 24 jam pembelajaran. Materi yang diberikan mencakup pengenalan pantomim, teknik dasar gerak dan ekspresi wajah, improvisasi cerita, blocking panggung, integrasi media digital, hingga penayangan karya dalam pementasan.

Dengan pendekatan Project-Based Learning, setiap peserta diajak tidak hanya belajar, tetapi juga menghasilkan karya pantomim singkat berdurasi 3–5 menit.

Bagi anak tunarungu, pantomim bukan sekadar seni tanpa kata. Ia adalah bahasa universal yang mengandalkan tubuh, mimik wajah, dan gerakan sebagai media komunikasi.

“Pantomim memberikan ruang bagi anak tunarungu untuk berbicara dengan cara mereka sendiri. Mereka tidak lagi terbatas oleh keterbatasan pendengaran, karena ekspresi tubuh bisa dipahami siapa saja,” terang tim penyusun modul pelatihan.

Nilai fungsi pelatihan ini terlihat pada tiga aspek utama:
1. Ekspresi diri – anak-anak dapat menyalurkan emosi dan ide secara visual.
2. Komunikasi nonverbal – menjadi alternatif komunikasi yang memperkaya bahasa tubuh mereka.
3. Kreativitas dan inklusi sosial – karya yang dihasilkan dapat tampil di panggung nyata maupun platform digital, sehingga memperkuat peran mereka dalam ruang publik.

Selain itu, dengan integrasi media digital, peserta juga diperkenalkan pada cara merekam, mengedit, dan mempublikasikan karya mereka. Hal ini menjadi bekal penting di era digital, di mana konten kreatif dapat menjadi media advokasi, portofolio, sekaligus peluang untuk menembus ruang lebih luas.

Suasana pelatihan berlangsung penuh semangat. Setiap sesi dimulai dengan ice breaking sederhana yang memancing tawa, diikuti latihan ekspresi dasar seperti senyum, sedih, marah, dan takut. Anak-anak berdiri di depan cermin besar, mencoba menirukan ekspresi, sementara pelatih memberikan koreksi halus dengan gerakan tubuh atau bantuan bahasa isyarat.

Salah satu momen yang menyentuh terjadi saat permainan “Tebak Emosi”. Seorang peserta memeragakan rasa takut dengan tubuh mundur dan mata terbelalak. Teman-temannya langsung menebak dengan bahasa isyarat dan tepuk tangan meriah. Momen ini menunjukkan bahwa ekspresi dapat menjembatani komunikasi, tanpa harus ada kata-kata.

Pelatihan ini diinisiasi oleh tim PKM UNESA, Syaiful Qadar Basri S.Pd., M.Hum Dr. Indar Sabri, S.Sn., M.Pd., Anbie Haldini Muhammad, S.Sn., M.A.; Dr. Trisakti, M.Si.; Dr. Subianto Karoso, M.Kes.; Dr. Arif Hidajad S.Sn., M.Pd.; Dr. Autar Abdillah S.Sn., M.Si.; Dr. Welly Suryandoko S.Pd., M.Pd. bersama dosen dan mahasiswa FBS UNESA.

Syaiful Qadar Basri bertindak sebagai pelatih utama, sementara peserta berasal dari anak-anak tunarungu binaan Sekolah Pantomim Nusantara. Selain itu, acara ini juga mendapat dukungan penuh dari pimpinan fakultas, komunitas seni, dan para pendamping inklusif.

Pada sesi akhir, anak-anak berkesempatan menampilkan karya pantomim kelompok dengan tema sosial seperti persahabatan, lingkungan, hingga inklusi. Pertunjukan sederhana itu tidak hanya menghibur, tetapi juga sarat pesan moral, membuktikan bahwa mereka mampu menyampaikan gagasan besar melalui gerakan tubuh.

Pelatih utama, Syaiful Qadar Basri, menegaskan bahwa pantomim adalah seni yang dapat menembus sekat keterbatasan.
“Anak-anak tunarungu memiliki cara unik dalam mengekspresikan diri.

Pantomim memberi mereka ruang untuk bicara dengan tubuh, menyampaikan gagasan, bahkan membangun percaya diri. Saya berharap pelatihan ini tidak berhenti di sini, tetapi menjadi gerakan yang berkelanjutan di banyak daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Founder Sekolah Pantomim Nusantara menambahkan bahwa program ini adalah bagian penting dari misi mereka untuk memperluas akses pendidikan seni.

“Kami percaya seni pantomim bisa menjadi media pendidikan alternatif yang inklusif. Melalui kerja sama dengan UNESA, kami ingin menunjukkan bahwa anak-anak tunarungu bukan hanya penerima manfaat, tetapi juga pencipta karya. Mereka punya potensi besar, dan tugas kita adalah memberi ruang serta panggung bagi mereka,” tegasnya.***